Usia Dewasa Ternyata Rentan Terhadap Kesepian

Bagaimana sih rasanya kalau diserang kesepian? Pasti tidak enak banget. Terasa sendiri padahal tidak sendiri. Merasa tidak ada yang menemani, padahal banyak orang yang menemani. Terasa kita sendirian berada di dunia ini.

Sangat sakit memang merasa sendiri. Padahal di luar itu banyak sekali teman yang ingin berbagi rasa dengan kita. Namun itu tidak mampu untuk mengusir kesepian ini. Ingin rasanya berteriak, mengadu, bercerita, tapi tidak tahu kepada siapa orangnya.

Banyak orang berpikir kalau usia tua akan mudah terserang kesepian. Karena pada usia tua, waktu terasa lambat. Mau beraktivitas pun terasa sulit banget. Badan sudah tidak sanggup untuk melakukannya.

Eits, jangan salah. Usia tua adalah usia dimana pikiran sudah matang. Dimana pada usia tersebut sudah kebal terhadap cobaan kehidupan. Namun, bagi usia yang masih dewasa. Usia yang sedang berkembang menjadi lebih baik. Sangat sulit untuk menerima cobaan kehidupan. Sedikit saja dilanda akan cobaan, otak akan berpikir sekeras mungkin. Dan itu termasuk kesepian di dalam dada (Sirivastava N and Agarwal, S, 2014).

Jadi, bukan usia renta yang mudah diserang kesepian. Namun usia dewasa berkisar 20-40 tahun. Dimana kita sedang fokus untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik lagi. Namun, ketika kita sedang bersemangat, otak juga sedang bersemangat mengembangkan diri sehingga lupa akan serangan cobaan.

Kesepian itu bisa diibaratkan warna hitam di sudut kertas. Sering kita lihat tanda hitam tersebut. Tapi kita tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menghapus tinta tersebut. Begitu jugalah orang yang melihat temannya kesepian. Mereka tahu kalau temannya kesepian, namun terkadang mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Kesepian bagaikan anak panah yang menyerang usia muda. Sekali anak panah tersebut tertancap, akan sulit sekali melepaskan anak panah tersebut. Jika terlepas, rasa tersebut tetap ada. Orang yang kesepian akan terus berada dalam kesepian. Terkadang dia terlihat tersenyum. Namun senyuman itu hanyalah sebuah drama. Hati menjerit keras, sekeras yang dibisa hingga batas maksimal (Child, S and Lawton, L, 2017).

Jangan salah. Banyak orang menganggap orang yang ceria dan easy-going itu orang yang jauh dari rasa sepi. Namun justru merekalah sasaran empuk dari penyakit kesepian ini. Tidak jarang, banyak sekali artis bahkan orang terkenal dilanda akan penyakit ini (Matthews, T, dkk, 2016).

Permasalahannya, ketika kita sebagai orang dewasa, tiba-tiba terserang oleh rasa sepi, apa yang harus kita lakukan? Apakah terus mengurung diri di dalam kamar? Ataukah pergi ke luar untuk mencari teman bicara.

Solusi yang paling gampang sih keluar, cari teman bicara yang bisa dipercaya. Kalau teman tidak bisa dipercaya, alias pengkhianat mah … lebih baik dijauhin. Nanti sakit hati dibuatnya.

Bercerita dengan orang yang dipercaya mampu meningkatkan rasa percaya diri. Selain itu pikiran menjadi lebih tenang dan damai. Semua rasa yang tersimpan di dalam hati, rasanya dikeluarkan setelah berbicara.

Namun bukan hanya sekadar mencari teman saja. Jika hanya mencari teman saja, semua orang bisa. Namun, banyak juga orang yang banyak teman tapi tetap kesepian.

Jangan lupa untuk menjalankan hobi, profesi, atau pekerjaan apapun itu yang disuka. Hal ini sangat besar dampaknya. Namun yang mesti diingat, melakukan hal tersebut tidak dibawah tekanan. Banyak penyanyi yang merasa passion menyanyi, namun, dia terjebak oleh rasa kesepian karena dibawah tekanan.

Kesepian itu seperti penyakit berbahaya. Namun sebenarnya, mudah sekali untuk keluar dari rasa itu. Iya, namun tidak pernah disadari oleh penderita. Berbicara mampu menekan rasa kesepian. Keluarga dan sahabat, adalah tempat yang bagus untuk menumpahkan segala rasa kesepian tersebut (Mann, dkk, 2017).

Jangan meremehkan keluarga dan sahabat. Karena ketika kita berada di jurang yang teramat dalam, merekalah dengan segera menolong kita.

Referensi:

  • Child, S and Lawton, L, 2017, “Loneliness and social isolation among young and late middle-age adults: Associations with personal networks and social participation.” Aging & Mental Health.
  • Mann, dkk, 2017, “A life less lonely: the state of the art in interventions to reduce loneliness in people with mental health problems.” Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology, 52(6): 627–638.
  • Matthews, T, dkk, 2016, “Social isolation, loneliness and depression in young adulthood: a behavioural genetic analysis” Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology, 51: 339–348.
  • Sirivastava N and Agarwal, S, 2014, “Loneliness among Young Adults: A Comparative Study.” European Academic Research, 3(2): 4351-4356

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here