Tidak Pintar Belum Tentu Menjadi Gagal

Banyak banget orang beranggapan kalau orang yang pintar dalam lingkungan sekolah maka dia kelak akan jadi sukses. Tapi sebaliknya, jika tidak pintar maka menjadi orang gagal dalam hidupnya.

Sebenarnya benarkah demikian? Sepertinya pendapat seperti itu hanyalah pendapat yang terlalu dipaksakan. Dipaksa dikatakan oleh orang dewasa agar anak-anak mau belajar keras. Ya, belajar pada pelajaran yang menurut ilmu pendidikan penting, seperti matematika tapi mengabaikan keinginan si anak.

Kalau anak yang kesenangannya adalah matematika sih tidak masalah. Dia bisa mengembangkan bakatnya dengan sempurna. Tapi bagaimana kalau anak bakatnya seni misalnya, dia akan tenggelam.

1. Kegagalan Itu Bagi Mereka Yang Menyerah

Fail Icon

Sudah bukan rahasia lagi kalau dunia ini banyak cobaan. Dan anehnya, setiap seseorang akan mendekati kata sukses pasti semakin banyak cobaan yang dia hadapi. Perhatikanlah orang sukses di dunia, mereka sudah banyak memakan kegagalan tapi tidak menyerah.

Apakah perlu kepintaran agar tidak menyerah ketika gagal? Tidak! Itu tidak perlu. Yang diperlukan adalah mental yang siap menerima kegagalan dan belajar menjadi lebih baik lagi. Belajar dari kesalahan yang dahulu dan memperbaikinya di masa depan.

Apakah kepintaran mampu melihat kegagalan di masa lalu? Tidak juga. Ini adalah kecerdasan emosional yang melihat hal tersebut. Secara logika mungkin tidak terlihat karena tanpa dipungkiri ketika gagal pikiran sedang kacau.

Kadang kita menganggap kemampuan berhitung adalah segalanya. Tapi itu adalah pemikiran yang keliru. Kemampuan berhitung memang sangat berguna. Siapa bilang kemampuan berhitung tidak ada gunanya. Bahkan kemajuan teknologi ini berkat kemampuan berhitung.

Tapi itu saja tidak cukup. Dibutuhkan kecerdasan lain, yang dalam pendidikan kecerdasan itu tidak dianggap. Itu adalah kecerdasan emosional.

2. Pekerjaan Bukan Hanya Berhitung

Job Icon

Banyak orang yang beranggapan kalau dia mampu matematika hebat maka dia akan mudah diterima pekerjaan kelak. Itu tidak benar. Pekerjaan itu bukan berdasarkan kemampuan berhitung. Banyak kemampuan yang dibutuhkan dalam pekerjaan. Dan kemampuan tersebut spesifik.

Orang yang ahli matematika mungkin cocok sebagai profesor. Tapi ingat, profesor bukan hanya di matematika saja. Bahkan banyak itu profesor di bidang sejarah, sastra, seni, dan lain sebagainya yang secara kasat mata tidak membutuhkan kemampuan matematika.

Ada juga pekerjaan yang tidak membutuhkan kemampuan matematika, seperti seorang designer atau ilustrator. Mereka hanya memfokuskan diri untuk menggambar, dan buktinya mereka juga bisa sukses.

3. Nilai itu Hanyalah Kertas

Result Icon

Nilai itu hanyalah sebuah kertas bernoda yang jika kita sudah dewasa itu tidak ada artinya. Nilai itu hanyalah memutuskan kemampuan dasar kita. Kemampuan yang diakui di waktu sekolah dan itu belum tentu dapat diterapkan dalam dunia dewasa.

Tapi kalau nilai rendah, kemampuan dan keinginan untuk sukses juga rendah, ini sih bisa jadi masalah di kemudian hari. Ini bagi mereka yang berusaha untuk melakukan yang terbaik tapi apa daya, nilai selalu pas-pasan bahkan bisa dibilang rendah. Hehe pengalaman pribadi, hiks sedihnya.

Memang, di bangku sekolah kita dianggap sebagai orang yang tidak pintar. Itu tidak bisa dihindari. Tapi yang menjadi persoalan adalah ketika dewasa. Di awal mencari pekerjaan memang butuh nilai. Tapi, setelah itu apa? Nilai itu tidak ada artinya. Yang penting adalah kemampuan kita dalam menghadapi setiap masalah. Jika kemampuan menyelesaikan masalah bagus, maka kita akan menjadi sukses. Oh ya, kemampuan pada bidang yang kita miliki juga dilihat loh. Orang yang misalnya ahli dalam Fisika belum tentu nilai Fisikanya tinggi.

4. Kecerdasan Emosional Itu Lebih Hebat

Love Icon

Hmm … apa ya untuk mengukur kecerdasan emosional? Kecerdasan yang menjadi perhatian kita kebanyakan adalah kecerdasan intelektual atau Intelegent Quotient (IQ). Dan katanya nih, orang yang memiliki nilai IQ tinggi maka dikatakan cerdas. Benarkah demikian?

Hal yang jarang diketahui oleh hampir semua orang dan bahkan beberapa orang menganggap ini salah. IQ itu bisa berubah-ubah. Orang yang sering berurusan dengan matematika atau apapun sejenisnya yang kegiatan berhitung, akan memiliki IQ yang tinggi.

Ada yang bilang kalau IQ itu bawaan dari lahir. Itu ada benarnya juga sih. Tapi IQ itu bisa berkembang menjadi lebih baik dan bisa juga terjadi penurunan. Hehe, IQ saya sendiri untungnya selalu berubah-ubah setiap tes. Mulai dari SMA hingga sekarang IQ selalu berubah dan anehnya selalu lebih baik.

Memang tidak dipungkiri ada anak yang IQ nya langsung tinggi. Tapi tunggu dulu, IQ itu hanyalah selembar kertas saja. Yang menentukan adalah Emotional Quotient (EQ) atau ringkasnya disebut kecerdasan emosional. Bagaimana kita mengatasi masalah, bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain, bagaimana kita menjadi pribadi yang lebih baik, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan emosional.

Misalnya ini ya. Kita dihadapkan akan pekerjaan marketing. Secara nilai dan IQ mungkin tinggi. Tapi apakah itu dibutuhkan dalam dunia marketing? Hanya sedikit dibutuhkan. Yang dibutuhkan adalah EQ, bagaimana kita berinteraksi dengan orang baru, atau memikirkan sebuah cara untuk membuat orang tertarik dengan produk kita.

IQ sih penting tapi EQ jauh lebih penting.

5. Jadi Sekolah itu Tidak Penting?

question Icon

Hohoho … jangan salah paham. Banyak yang menganggap nilai itu tidak penting sehingga dia tersesat. Dia menganggap sekolah itu tidak penting. Jadinya apa? Dia terjebak dalam pemikiran demikian.

Tapi kalau nilai itu tidak penting, kecerdasan itu tidak penting, apakah perlu sekolah?

Kecerdasan secara intelektual itu memang tidak begitu penting tapi ingat, kecerdasan emosional itu sangat penting. Bagaimana kita mengembangkan kecerdasan emosional? Salah satu cara terbaiknya adalah dengan sekolah. Dengan sekolah kita berinteraksi dengan banyak orang, belajar hal baru, menerima kegagalan (apalagi saat menerima nilai jelek padahal itu hasil kerja keras dan tidak mencontek), belajar menghormati yang lebih tua, dan banyak lagi pelajaran yang dapat kita ambil, tanpa disadari.

Sebagai contohnya saja. Perhatikan pemikiran orang yang telah menyelesaikan pendidikan S3 (doktor) dibandingkan dengan pendidikan S1 (sarjana). Terlihat lebih bijak yang S3. Walaupun mungkin, secara kecerdasan dilihat dari luar, seseorang yang pendidikan S1 terlihat lebih pintar, lebih banyak bicara dibandingkan yang S3, yang S3 bicara seperlunya saja sih.

Tapi perhatikan kecerdasan emosional. Kalau diperhatikan, lebih bijak orang yang pendidikan S3 dibandingkan dengan S1. Saat menerima kegagalan juga orang yang pendidikan S3 lebih mudah menerima dan mengatasi masalah tersebut dibandingkan dengan pendidikan S1. Soalnya dalam pengalaman, menyelesaikan disertasi itu membutuhkan kesabaran tingkat tinggi dan sering sekali mengalami kegagalan.

Maka dari itu, pendidikan penting untuk meningkatkan kecerdasan intelektual dan terlebih kecerdasan emosional.

6. Bill Gates dan Mark Zuckerberg Putus Sekolah

shocked icon

Ini adalah alasan umum yang digunakan oleh orang yang mengatakan sekolah itu tidak penting, cerdas itu tidak penting, tidak ada gunanya belajar, dan lain sebagainya. Oke, marilah kita membuka sedikit fakta. Bill Gates dan Mark Zuckerberg itu pernah kuliah di Universitas Harvard.

Untuk sekadar ingin tahu saja. Universitas Harvard adalah universitas terbaik nomor tiga sedunia. Artinya, untuk lulus di Universitas Harvard berarti harus pintar banget. Karena tes untuk masuk saja susahnya minta ampun. Hanya orang-orang yang memiliki pengetahuan tinggi yang mampu melakukannya.

Artinya, selama sekolah SD, SMP, dan SMA si Bill Gates dan Mark Zuckerberg belajar keras. Mereka belajar keras untuk mendapatkan ilmu pengetahuan baru. Mereka belajar keras karena kecintaan mereka akan ilmu pengetahuan.

Jadinya, pada saat tes Universitas Harvard mereka lulus dengan mudah. Nah, sekarang coba bandingkan dengan diri kita. Katanya sekolah itu tidak penting. Apakah kita bisa lulus tes di Universitas Harvard? Mengikuti jejak Bill Gates dan Mark Zuckerberg?

7. Jadi Kesimpulannya

conclusion icon

Memang, tidak pintar belum tentu menjadi gagal. Nilai itu bisa dibilang tidak penting di dunia pekerjaan. Tapi! Sekolah itu sangat penting. Sekolah bukan hanya untuk meningkatkan kecerdasan intelektual. Itu hanyalah sebagian kecil. Tapi sekolah melatih siswa untuk meningkatkan kecerdasan emosional. Memang sih, kecerdasan emosional tidak dinilai di lingkungan sekolah. Tapi, meningkatnya kecerdasan emosional terjadi tanpa kesadaran kita. Tahu-tahu, kita mampu menyelesaikan sebuah masalah sulit sekali yang kebanyakan orang belum tentu mampu menyelesaikannya.

Jangan pernah berhenti belajar dan berusaha. Kerja keras akan membuahkan hasil di suatu saat nanti. Bukan sekarang, tapi di masa depan.