Perlunya Pembelajaran di Luar Ruangan untuk Pemahaman Siswa

Perlunya Pembelajaran di Luar Ruangan

Kadang banyak yang berpikir kalau proses belajar mengajar itu hanya di dalam ruangan. Para siswa duduk manis di dalam kelas. Si guru datang dengan membawa materi yang hendak diajarkan. Guru menjelaskan dengan semangat dan siswa mendengarkan dengan antusias. Kadang guru memberikan soal untuk memacu siswa. Kadang juga si guru memberikan pekerjaan rumah (PR).

Namun ada juga pembelajaran di luar ruangan. Yakni pembelajaran dengan melihat langsung apa yang diajarkan. Semisal jika pembelajaran mengenai materi sampah, maka pembelajaran bisa dilakukan di tempat sampah.

Ada kelebihan pembelajaran di luar ruangan ini. Salah satunya pemahaman siswa menjadi lebih cepat. Seperti ketika kita sedang mempelajari hal baru. Misal kita akan mempelajari “cara mencangkok tanaman”. Tentu lebih mudah mempelajari dengan melihat langsung daripada mendengarkan ceramah.

Namun, dibalik kelebihan yang mampu membuat pemahaman siswa menjadi lebih cepat. Ada beberapa kekurangan dari pembelajaran di luar ruangan ini. Salah satunya sulit mencari tempat yang bagus dan menentukan metode pembelajaran. Karena itulah banyak pendidik melupakan pembelajaran di luar ruangan.

Semisal kalau sedang pembelajaran dampak penggunaan sampah. Bisa kita dengan melakukan pembelajaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Ya … tentu saja dengan sedikit usaha sih. Nggak banyak juga siswa yang mau jalan-jalan ke TPA. Atau dampak sampah terhadap ekosistem laut. Maka tidak apa-apa belajar di daerah pantai, sambil berwisata juga. Tentu saja dengan membutuhkan biaya tambahan sih.

Ketika para siswa mendapat pembelajaran di luar ruangan, maka para siswa akan sangat antusias. Ada wajah baru yang mereka rasakan dalam pembelajaran. Tidak hanya dengan mendengar saja. Tapi juga dengan pemahaman langsung.

Contohnya saja deh. Berapa banyak para siswa yang senang sekali pembelajaran olahraga. Kalau pelajaran olahraga, bakal semangat itu. Tapi kalau tiba-tiba nih pelajaran olahraga merupakan teori, yang mengharuskan belajar di dalam ruangan. Tiba-tiba saja para siswa menjadi lelah, letih, lunglai, dan tidak semangat. Tapi kalau belajar di luar ruangan, langsung semangat. Berapa banyak para siswa yang mengidolakan pelajaran olahraga? Mungkin siswa yang mengidolakan pelajaran olahraga lebih banyak, bahkan jauh lebih banyak dibanding para siswa mengidolakan pelajaran matematika.

Bagaimana dengan pelajaran sains? Itulah gunanya dengan praktikum. Sesekali, ajaklah para siswa melakukan praktikum di laboratorium sekolah. Walaupun hanya melakukan praktikum sederhana, para siswa akan bersemangat sekali.

Tapi yang perlu diingat. Dalam pembelajaran praktikum di laboratorium, perlu pengawasan ekstra. Karena sering sekali para siswa jahil banget. Coba-coba mencampurkan bahan A ke B, mereka nggak tahu kalau itu berbahaya.

Gunakan variasi model pembelajaran untuk menunjukkan proses belajar mengajar. Mungkin untuk model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) tidak membutuhkan luar ruangan. Tapi untuk model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) dan Discovery Learning itu membutuhkan luar ruangan.

Tidak harus sering melakukan pembelajaran di luar ruangan. Itu juga tidak bagus. Tapi jangan selamanya proses belajar mengajar dilakukan di dalam kelas. Perlu variasi tempat, suasana, kondisi, model pembelajaran, dll untuk menciptakan proses belajar mengajar yang efektif.