Perlunya Orang Tua Mendampingi Anak Belajar

Persoalan masalah belajar bukan hanya dilakukan di sekolah saja. Bahkan dikatakan pembelajaran di sekolah hanyalah 15% saja, kalau dihitung secara kasar. Lebih banyak pembelajaran dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Entah itu dalam pergaulan, minat, bahkan dalam keluarga.

Orang tua erat kaitannya dengan tumbuh kembangnya anak. Jika orang tua selalu mendampingi anak belajar, maka anak akan lebih termotivasi. Ada sebuah hubungan yang tidak dijelaskan ketika orang tua ikut mendampingi anak.

Namun, ada beberapa orang tua yang jarang melakukan interaksi dengan anak. Mungkin karena sibuk atau karena halangan lain yang tidak bisa dijelaskan. Banyak para orang tua yang kebingungan akan jadwal ujian si anak. Para orang tua biasanya bertanya kepada sekolah. Kenapa harus bertanya kepada sekolah? Apakah tidak bisa bertanya kepada anaknya? Inilah yang menjadi catatan penting pada perkembangan pendidikan saat ini.

Hubungan orang tua dan anak itu bukan sebatas memberi kebutuhan jasmani saja. Hanya mencukupi kebutuhan materi, maka dirasa sudah cukup, salah! Hubungan orang tua dan anak itu bahkan lebih kompleks.

Hubungan Orang Tua Menjadi Dekat

Saat ini, berapa banyak hubungan orang tua dan anak yang dekat? Bisa dibilang jumlah hubungan orang tua dan anak yang semakin renggang itu sangat banyak. Mungkin si orang tua yang terlalu sibuk sehingga tidak bisa mendampingi si anak, atau karena faktor lain.

Padahal hubungan orang tua dan anak yang dekat itu sangat penting. Inilah yang menjadikan tumbuh kembang anak menjadi bagus. Hubungan orang tua dan anak yang dekat mampu mendekatkan anak menjadi pribadi yang positif. Buat apa menjadi perhatian orang lain kalau perhatian orang tua sudah didapat.

Inilah yang menjadi dilema saat ini. Anak itu butuh asupan yang namanya perhatian. Namun, dikarenakan hubungan orang tua dan anak sangat jauh, otomatis tidak ada perhatian dong. Walaupun secara materi mungkin kebutuhan si anak tercukupi. Namun masalah perhatian ini yang menjadi persoalan. Banyak anak yang kurang kasih sayang akhirnya mencari perhatian ke orang lain. Sayangnya, jalannya untuk mencari perhatian bukanlah jalan yang baik. Sehingga timbullah yang namanya kenakalan remaja. Ketika diwawancara orang tua si anak, para orang tua berkata kalau si anak selama di rumah kelakuannya baik. Mungkin iya, ketika si orang tua melihat anak memang baik. Karena hanya melihat sekilas saja.

Orang tua menemani anak belajar itu sudah sangat cukup. Mungkin memang iya, si anak seperti menolak untuk ditemani. Apalagi ketika memasuki usia remaja. Ada perasaan malu, tapi dalam hati yang terdalam mereka gembira.

Mampu Menyelesaikan Persoalan Anak

Mungkin saja, di suatu hari si anak kesulitan untuk memahami mata pelajaran tertentu. Atau kesulitan mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR). Ya … orang tua bisa bantu sedikitlah. Setidaknya bisa bantu dalam mencari informasi. Atau bantu dalam memberi semangat.

Kalau si anak masih sekolah dasar, bisalah bantu dalam berhitung atau membaca. Haha, saya jadi teringat ketika ibu saya membantu dalam membaca dan berhitung. Walaupun mungkin, saya akui bantuan ibu tidak meningkatkan kemampuan membaca dan berhitung. Namun, dengan adanya ibu, membuat ruang kosong di hati ini menjadi terisi. Oh ya, pernah juga sih ibu menyelamatkan saya dengan membantu menyelesaikan persoalan ketika SMA. Membantu memberi semangat saja sih.

Mungkin kita adalah orang tua dengan tingkat ilmu pengetahuan tinggi. Misalnya menjadi ahli dalam matematika. Bisalah menemani anak dalam belajar matematika. Sehingga si anak dapat dua keuntungan. Satu mendapatkan perhatian kasih sayang yang tiada tara sedangkan satunya dapat guru penuh kasih sayang.

Ya … sebagai orang tua sebaiknya menjaga emosi. Memang beda ketika mengajari anak orang dibandingkan anak sendiri. Kadang kesabaran ketika mengajari anak sendiri itu batasnya tipis banget. Melihat anak mengalami kesulitan sedikit saja, emosi sudah meluap-luap.

Memotivasi Anak

Kadang bisa juga nih memberi kutipan motivasi kepada anak. Jadi ketika sedang serius belajar, lalu setelah itu santai dulu. Mulai nih diberikan sedikit kutipan motivasi. Walaupun mungkin kata-kata motivasi nan indah tersebut tidak didengar anak, tapi motivasi itu terekam di memori anak yang suatu hari dibutuhkan.

Saya jadi teringat ketika dulu orang tua saya memotivasi saya ketika menemani belajar. Setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya tidak saya dengarkan. Wajar sih tidak saya dengarkan, karena kalau orang tua saya menemani saya belajar, rata-rata itu emosi pada naik, hehe. Tapi, setiap saya merasa akan menyerah, kata-kata motivasi orang tua selalu teringat dalam memori saya sehingga itulah yang membuat saya kuat, tidak mudah menyerah akan kesulitan.

Atau kalau si orang tua itu pandai menyusun kata-kata dan dapat memilih waktu yang tepat. Kata-kata motivasi akan menusuk hati si anak. Kena banget tuh kata-katanya. Jadinya si anak akan menjadi orang yang baik. Sebenarnya, kata-kata motivasi orang tua itu lebih ampuh dibandingkan orang lain.

Membantu Anak Menjadi Tenang

Misalnya nih, karena ada PR yang sulit banget, ditambah si guru ternyata galak banget. Tentu si anak menjadi gelisah. Apalagi si anak pada masa SD atau SMP. Kalau SMA jarang banget sih anak-anak yang gelisah karena PR, ujian saja jarang gelisah.

Nah kita sebagai orang tua berperan ikut andil dalam menenangkan si anak. Peluk si anak, berikan kasih sayang yang menghangatkan. Si anak akan menjadi lebih tenang tuh, tenang banget malah.

Nah, si orang tua dapat dua keuntungan nih. Memberikan kehangatan di kala si anak butuh banget kasih sayang, dan memberikan pengajaran bahwa pentingnya orang tua di kala si anak sedih. Jadi si anak merasa kalau orang tuanya perhatian kepada dia. Hal ini akan berdampak hingga dewasa nanti. Setidaknya, dia tidak mencari-cari perhatian lagi dari luar dan menjadikan anak penuh dengan kasih sayang.

Mampu Memantau Perkembangan Anak

Nah yang menjadi persoalan, kadang ada beberapa anak yang tidak baik. Tentu dong orang tuanya dipanggil untuk melakukan evaluasi. Ketika si orang tua diwawancara, didapatkan fakta bahwa mereka tidak mengetahui perkembangan anak.

Ada yang tidak mengetahui sifat anak di luar rumah. Ada yang tidak mengetahui keinginan si anak. Ada yang tidak mengetahui apa saja sih kegiatan si anak selain di rumah. Ada juga yang tidak tahu apa saja sih kegiatan si anak selama di rumah. Bahkan tidak tahu juga tuh si anak kelas berapa. Ada juga yang tidak sadar kalau si anak sekolah di mana.

Hal ini dikarenakan orang tua tidak memperhatikan perkembangan si anak. Yang diperhatikan hanyalah bagian luarnya saja. Seperti orang lain yang memperhatikan seseorang hanya dari kulit luar. Yang dia tahu si anak adalah anak yang baik, karena selama di rumah selalu berada di dalam kamar. Tapi tidak tahu apa yang dilakukan si anak dalam kamar tersebut.

Hal tersebut menjadi dilema. Ketika si anak bisa dikatakan kurang baik. Si orang tua akan membantahnya dengan tegas. Karena yang dia lihat hanyalah di rumah saja, tapi tidak pernah memperhatikan perkembangan anak.

Hal inilah yang menjadi pentingnya orang tua menemani anak ketika belajar. Maka secara sadar atau tidak sadar, orang tua akan memantau perkembangan anak. Dimana anak mengalami kesulitan, dimana bakat si anak, dimana kelebihan si anak, dll. Sehingga orang tua mampu membimbing anak menurut minat dan bakatnya.

Jadilah orang tua yang ikut menemani anak belajar. Walaupun mungkin tidak setiap hati, karena ada kalanya kita sebagai orang tua itu sibuk, sehingga butuh istirahat ketika di rumah. Tapi, sekali saja dalam seminggu menemani anak belajar, itu sangat berharga bagi si anak.