Penyebab Budaya Membaca Semakin Rendah

Penelitian terbarukan menyebutkan bahwa budaya membaca di Indonesia tergolong rendah. Tentu saja hal ini memprihatinkan. Mengingat kecerdasan seseorang tergantung dengan bacaan yang dia baca. Masalahnya, kalau yang dibaca sedikit, maka kecerdasan tidak akan meningkat. Seberapa jeniusnya pun seseorang, kalau tidak membaca maka tidak akan cerdas.

Contohnya kita yang tidak pernah membaca mengenai lautan itu asin. Maka tentu kita akan menganggap kalau lautan itu rasanya tawar. Seberapa tinggi pun IQ yang kita miliki, tentu tetap akan menganggap air laut itu tawar. Tentu kita kelihatan tidak cerdas.

Selama tidak membaca, maka semakin tertutup akan ilmu pengetahuan. Seberapa hebatpun kemampuan seseorang, kalau tidak membaca, maka ilmu pengetahuan tidak akan menghampirinya.

Pertanyaan yang paling mendasar, kenapa sih budaya membaca di Indonesia rendah?

Penyebab Budaya Membaca Rendah

1. Susah Mendapat Buku

Mungkin kalau dibandingkan dengan hidup perkotaan, mungkin mendapatkan buku bacaan gampang, mengingat toko buku banyak sekali dimana-mana, kalau belum ditutup karena bangkrut mengingat sedikit sekali orang beli buku. Atau ke perpustakaan yang cenderung sepi, kecuali bagi mahasiswa pejuang skripsi.

Bagi di pedesaan, mendapatkan buku bacaan itu sangat sulit. Saya ingat ketika dulu hidup di pedesaan. Untuk mendapatkan buku bacaan anak SD saja susah. Harus pergi ke kota yang jaraknya itu jauh banget.

Kalau mendapat buku saja susah, maka wajar kalau sedikit yang mau baca buku. Untuk mendapatkan akses buku saja membutuhkan perjuangan. Bagaimana dengan e-book? Mungkin di daerah perkotaan gampang karena sinyal bagus, di pedesaan, sinyal itu begitu susah, sehingga untuk melakukan browsing saja butuh kesabaran. Untungnya, akhir-akhir ini sedang giat-giatnya pembangunan desa.

2. Harga Buku Sedikit Mahal

Harga satu buku berada di kisaran 50.000 – 100.000, mungkin akan terasa mahal bagi sebagian besar orang. Harga segitu memang mahal, mengingat kalau dibandingkan dengan harga mainan. Walaupun sudah banyak sekali ada bazar buku murah, itu pun masih sepi peminat.

Di setiap orang merasa kalau buku itu sedikit mahal. Walaupun mungkin, untuk pergi makan di cafe uang yang dia habiskan melebihi harga satu buku. Tapi memang karena memang di kepala sudah mengatakan mahal, maka buku 50.000 akan terasa mahal.

Bagi orang dengan ekonomi menengah ke atas, harga buku 50.000 mungkin terasa murah, walaupun dalam mindset sudah dibilang mahal. Tapi bagi orang dengan ekonomi menengah ke bawah, harga buku 50.000 akan terasa mahal. Beruntung ada perpustakaan yang menyediakan buku bacaan gratis.

3. Buku Tidak Menarik

Ini memang dilema. Tulisan itu bukan hanya sekadar menuliskan ilmu pengetahuan, pengalaman, cerita di dalamnya. Tapi juga harus mempertimbangkan unsur estetika. Bagaimana tulisan itu menarik dibaca dan menambah rasa penasaran. Terutama buku ilmu pengetahuan.

Inilah yang sulit dan menjadi tantangan ke depan. Menciptakan sebuah tulisan yang mampu dibaca, menyenangkan, menambah penasaran, dan menambah ilmu pengetahuan. Selama ini masih fokus kepada menciptakan tulisan tanpa ada unsur estetika di dalamnya.

Contohnya saja, mungkin ini yang merasakan saya saja kali. Dalam topik yang sama, saya lebih suka membaca buku luar negeri dibandingkan dengan buku Indonesia. Walaupun ilmu pengetahuan yang terkandung di dalam buku tersebut sama. Namun perbedaan mengenai estetika jauh sekali. Ketika saya membaca buku luar negeri, saya merasa penasaran, tertarik, penuh dengan misteri akan buku tersebut.

4. Buku Melelahkan

Walaupun itu buku fiksi, ternyata membaca itu melelahkan. Karena otak mengerjakan dua kegiatan sekaligus, membaca dan imajinasi, dan itu bergerak secara bersamaan. Ketika kita sedang membaca maka seketika itu pun kita berimajinasi.

Melakukan dua kegiatan sekaligus tentu melelahkan, maka tidak heran membaca buku itu melelahkan. Bahkan ada beberapa orang yang terkuras banyak energinya ketika membaca buku. Maka tidak heran banyak orang mengantuk ketika membaca buku.

Tapi lain cerita kalau buku tersebut menarik dan mengundang penasaran. Seberapa lelahnya pun seseorang, akan terus dibaca. Inilah yang terjadi ketika membaca buku fiksi populer atau non fiksi populer. Maka sangat penting mencantumkan nilai estetika pada tulisan.

5. Merasa tidak Butuh Buku

Dari kesimpulan kenapa budaya membaca rendah, maka jawaban sebenarnya karena tidak butuh. Ilmu pengetahuan yang banyak terkandung pada buku masih belum dibutuhkan. Maka wajar ketika mahasiswa semester awal sampai belum menyentuh skripsi, dia sama sekali tidak menyentuh buku. Tapi ketika mengerjakan skripsi, maka dia mati-matian membaca buku, karena butuh. Begitu juga dengan mahasiswa yang awalnya tidak butuh membaca buku. Tapi karena ada tugas yang diberikan guru/dosen, maka dia pun terpaksa membaca buku.

Walaupun tulisan dalam buku menarik, mengundang penasaran, banyak ilmu pengetahuan maupun pengalaman di dalamnya, tapi kalau tidak butuh, tidak akan dibaca. Niat awal yang penting dalam membaca buku.

Maka terkadang butuh pemaksaan dalam membiasakan membaca buku. Saya ingat, seandainya dulu guru saya tidak memaksa saya membaca buku, dulu guru saya ketika SMA sering sekali memberikan tugas yang memaksa saya membaca buku.

Iya sih kerja kelompok. Tapi kan prinsipnya kerja kelompok itu dikerjakan pribadi. Teman sekelompok saya hanya menerima hasil dan saya terpaksa mengerjakan. Seharusnya, kalau dikerjakan kelompok, pergi ke kota mencari buku tidaklah sulit. Tapi karena dikerjakan individu, terasa sulit sekali. Perjuangan itulah yang membuat saya ketagihan membaca buku. Yang awalnya terpaksa menjadi ketagihan.

Keuntungan Membaca Buku

Banyak sekali keuntungan yang didapat dengan membaca buku. Terutama akan pemahaman kita. Pikiran semakin terbuka. Pengetahuan yang didapat bukan hanya yang didengar maupun diajarkan, tapi lebih dari itu.

Di sekolah mungkin sudah diajarkan mengenai teori atom. Tapi ilmu pengetahuan hanyalah diajarkan sampai teori atom Niels Bohr. Maka kalau rajin membaca, maka akan mengetahui mengenai tori atom Kuantum.

Membaca juga menambah kebijaksanaan. Banyak pengalaman dalam tulisan yang menjadi pelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Banyak hal. Bahkan kesuksesan bisa didapat melalui membaca.

Misalkan saja dengan orang yang gemar membaca berita. Tentu beda pengetahuan dan kebijaksanaan dengan orang yang tidak gemar membaca berita.

Orang yang tidak gemar membaca berita tentu dia tidak akan tahu dengan berita hari ini dan tidak akan bersikap kritis. Tapi kalau orang yang gemar membaca berita, akan tahu perkembangan dan bersikap kritis.

Perlu Adanya Niat dalam Membaca

Nah, agar membaca menjadi kebutuhan, perlu adanya niat. Niat yang tulus dalam membaca buku. Walaupun mungkin, membaca awalnya keterpaksaan. Niat membaca buku untuk menyelesaikan tugas. Tapi itu tidak masalah.

Jika tidak niat, bagaimana bisa membaca buku. Awalnya adalah niat. Walaupun mungkin buku berharga murah dan mudah didapat, maka buku tidak akan dibaca. Inilah yang menjadi fenomena pada perpustakaan. Banyak sekali koleksi buku, gratis lagi, tapi pembaca sedikit.

Mungkin untuk memperkuat niat tersebut perlu adanya pemaksaan. Pada pendidikan di negara maju, memang membaca buku itu adalah kebutuhan. Tapi jika diperhatikan pada pendidikan sekolah dasar, kebanyakan dilakukan pemaksaan terlebih dahulu dalam hal membaca buku. Tapi memang pendidik di negara maju begitu lihai. Para pendidik mampu memaksa murid tapi sang murid tidak merasa kalau dia dipaksa. Pemaksaan tersebut akhirnya menjadi kebiasaan. Awalnya hanya terpaksa membaca buku, hingga akhirnya menjadi ketagihan membaca buku.

Tantangan ke depan ialah bagaimana menciptakan generasi dengan budaya membaca tinggi. Mungkin sebagian orang merasa membaca konvensional, buku dengan kumpulan kertas sudah ketinggalan zaman, tidak masalah. Buku elektronik sudah menjamur dimana-mana. Proses pembelian dengan buku elektronik sekarang sudah mudah. Jadi tidak ada alasan untuk tidak membaca buku.