Penggunaan Social Media Mengakibatkan Rentan Akan Kesepian

Generasi millennial rentan yang namanya kesepian. Kenapa dan apa penyebabnya? Kemungkinan besar dikarenakan penggunaan social media yang terlihat mengkhawatirkan. Penggunaan social media memang bikin lupa waktu, bahkan kadang melupakan fakta bahwa sebenarnya kita kesepian.

Jumlah like dan comment memang memberikan kesenangan tersendiri. Hal yang pertama dipikirkan ternyata banyak orang yang sedang memikirkan kita. Yang artinya mereka adalah teman.

Namun kenyataan tidak demikian. Mereka like dan comment memang peduli dengan kita, tapi hanya tampilan luar. Kalau untuk berteman, hanya sekedar pertemanan biasa, tidak bisa dijadikan pertemanan yang lebih serius. Mungkin mereka senang melihat status kita yang bahagia, atau sedikit bersedih dengan status galau, tapi ya sebatas itu saja. Tidak ingin lebih dekat lagi.

Apalagi, kebanyakan orang menggunakan social media untuk pergi jauh dari kehidupan aslinya. Mungkin kehidupan nyata dia adalah seorang yang dibenci. Namun di social media, dia mampu mengubah image akan dirinya.

Mereka beranggapan social media adalah dunianya. Walaupun begitu, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, dia kesepian. Dia ingin ada seseorang yang mendengarkan dirinya. Ingin curhat, tapi tidak tahu kepada siapa diri ini akan bercerita.

Teman di social media memang menghanyutkan. Kelihatan peduli tapi sebenarnya tidak. Seperti seorang A, dia mengikuti kehidupan social media B. Dia melihat si B itu begitu cantik dan penuh dengan kata-kata romantis. Tapi yang dia ikuti hanyalah kecantikan dan kata-kata romantis saja. Si A tidak peduli dengan kesedihan yang dialami B.

Ketika si B memperlihatkan sebuah skandal, yang mungkin itu hanya editan dari pihak tidak bertanggung jawab, atau si B menjadi korban fitnah. Seketika itu juga A menjadi pembenci si B, sangat benci.

Teman di social media memang menghanyutkan. Kelihatan sekali begitu banyak teman yang muncul. Tapi, itu hanyalah teman tanpa wujud. Yang dibutuhkan manusia sebenarnya teman yang mempunyai wujud. Bahkan, bisa bertatap muka. Walaupun mungkin ada yang namanya video call, tapi itu terasa kurang. Rasanya, lebih puas bertatap langsung dibandingkan bertatap di depan layar device. Di satu sisi, kita merasa kalau kita memiliki banyak teman. Tapi di sisi lain, rasanya begitu sepi. Tidak ada teman yang bisa dijadikan bercanda ataupun bercerita.

Social media bisa diibaratkan racun yang manis. Kelihatan menyenangkan tapi sebenarnya membahayakan. Kelihatan manis tapi pahit. Begitu banyak orang mendapat kenangan pahit akan social media. Tapi kebanyakan orang menutup mata akan fakta tersebut. Karena, banyak juga yang mendapat kenangan manis akan social media, misalnya mendapatkan banyak uang. Kebanyakan dari kita lebih memilih fakta yang menyenangkan dibandingkan menyedihkan. Walaupun sebenarnya, fakta menyenangkan itu bukanlah fakta sesungguhnya. Di balik kesuksesan ada kenangan pahit yang tidak mungkin diceritakan.

Penyakit kesepian itu sangat berbahaya. Bayangkan kita hidup di ruangan tertutup dan itu gelap banget. Tidak ada cahaya yang masuk dan tidak ada teman bercerita. Hanya kita sendirian di sana. Rasanya begitu menusuk jiwa. Ingin rasanya keluar dari lingkaran kesepian tapi tidak bisa.

Banyak orang yang lebih memilih mengubah dirinya agar terbebas dari kesepian. Bahkan rela melakukan segalanya, seperti merusak tubuhnya agar diperhatikan orang. Atau mengubah kepribadiannya agar orang lain menerima dirinya. Namun, itu hanya sesaat saja. Ada masanya, semua yang dia lakukan percuma dan akan jatuh kembali ke lembah kesepian.

Bayangkan kita mendapat kesuksesan tapi tidak ada yang sebenarnya memperhatikan diri kita. Mereka hanya melihat harta, harta, dan harta, tidak melihat siapa diri kita. Ketika mereka melihat diri kita, yang dilihat adalah harta yang menempel di badan, bukan hati kita yang membutuhkan kasih sayang.

Penggunaan social media memang memberikan dampak positif. Mendekatkan yang jauh dan mempererat silaturahmi yang hampir terputus. Tapi ingat! Jangan hanya fokus kepada dampak positif saja, dampak negatif juga diperhatikan sekali-kali. Akibat keseringan menggunakan social media, sehingga membuat diri lupa akan kenyataan. Kenyataan yang sebenarnya kita membutuhkan kasih sayang.

Bijaklah menggunakan social media. Jangan sampai social media tersebut menghancurkan diri kita. Jangan sampai karena social media, kita menyesal seumur hidup. Social media memang memberikan dampak positif tapi juga memberikan dampak negatif.