Pendidikan bahaya narkoba sebaiknya dimulai dari keluarga

Narkoba itu sangat berbahaya. Dengan narkoba seseorang bisa hancur sehancurnya. Masalahnya, si pengguna narkoba tidak menyadari kalau dia akan hancur. Yang dia tahu adalah narkoba menolongnya.

Seperti orang yang menawarkan kebaikan tapi sebenarnya justru menghancurkannya. Begitulah narkoba. Kelihatannya memang baik, tapi membuat seseorang tergantung terhadapnya. Pelan tapi pasti menghancurkan tubuh si pengguna. Hingga si pengguna tidak menyadari kalau seluruh hidupnya telah direnggut oleh narkoba.

Kebahagiaan dengan tumbal yang mahal, itulah narkoba.

Karena dari itu, pendidikan bahaya narkoba memang penting. Banyak dari kita yang menganggap pendidikan bahaya narkoba itu hanya didapat dari sekolah. Itu tidak benar. Jika hanya mengandalkan sekolah saja tentu tidak cukup.

1. Pendidikan Bahaya Narkoba bukan di Sekolah Saja

School Icon

Inilah yang keliru akan anggapan banyak orang. Dipikir pendidikan bahaya narkoba hanya di sekolah saja. Buka-bukaan saja, di sekolah bukan hanya pendidikan narkoba saja yang dipelajari. Banyak sekali diajarkan oleh guru untuk bekal masa depan muridnya. Itupun belum tentu si murid mau menerima penjelasan dari guru.

Faknya, hampir sebagian besar apa yang diajarkan oleh guru tidak didengar oleh murid. Atau didengarkan juga sih, tapi beberapa hari kemudian akan dilupakan. Maka dari itu, sebenarnya jika dikatakan pendidikan bahaya narkoba mengandalkan sekolah tentu tidak efektif.

Di sekolah mungkin menggunakan pendekatan pendidikan, mentransfer ilmu yang dimiliki oleh guru. Tapi bukan pendekatan kekeluargaan yang penuh kasih sayang. Padahal, pendidikan untuk pendekatan kasih sayang itu sangat efektif.

2. Kurang Pendidikan Akhirnya Coba-Coba

Magic Icon

Apakah pendidikan narkoba di sekolah bisa dikatakan sudah cukup? Sayang sekali, nyatanya tidak. Butuh banyak sekali pelajaran mengenai narkoba yang harus diserap oleh murid tapi tidak bisa diajarkan diakibatkan kurangnya waktu. Oke, waktu sih mungkin bisa diperpanjang. Bisa dikatakan karena kurangnya minat murid dalam menerima penjelasan guru.

Sehingga apa yang terjadi, karena rasa penasaran remaja itu sangat besar. Ada keinginan di dalam dirinya untuk coba-coba, untuk mengetahui sendiri. Apalagi ada pengetahuan yang berkembang, lebih baik dicoba-coba dan dapat pembelajaran dibandingkan hanya dengan teori.

Akhirnya mulai deh si remaja coba-coba menggunakan narkoba. Sayangnya, sekali saja terjun ke dalam dunia narkoba maka tidak akan pernah lepas. Satu kali coba, akhirnya ingin coba lagi dengan beribu alasan untuk meyakinkan dirinya. Akhirnya, jadinya ketergantungan.

3. Remaja Hanya Mendengar Informasi Sekilas

sound icon

Inilah yang menjadi dilema dalam pendidikan narkoba. Apa yang diajarkan masih sangat sedikit. Selain karena kurangnya waktu, juga karena kurangnya minat murid dalam memahami yang diajarkan guru. Ditambah apa yang si remaja dengar dari teman-temannya hanya sekilas saja.

Saya ketika remaja pernah mendengar beberapa apa yang diajarkan teman saya mengenai narkoba. “Obat ini enak, mampu membuat dirimu senang. Sekarang kamu pasti sedang stress. Sudah lupakan pelajaran, orang tua lupakan dulu. Yang penting senang-senang. Ini obat mujarab, selain itu menyehatkan juga. Banyak banget orang yang sudah mengkonsumsi obat ini menjadi sehat, bahkan pintar.” Beruntung saya tidak mengkonsumsinya, untung saja. Ternyata obat itu adalah narkoba dan teman saya tersebut telah berakhir di rehabilitasi.

Sebenarnya, untuk menutupi informasi yang sekilas tersebut, pendidikan narkoba di keluarga sangat dibutuhkan. Apalagi ditambah dengan kasih sayang orang tua yang nyatanya dibutuhkan oleh anak. Hal ini membuat anak semakin menjauhi narkoba.

4. Keluarga adalah Pendidikan

whiteboard icon

Apa itu keluarga? Apakah hanya sebatas ayah, ibu, dan anak? Setelah itu dilepas. Ada urusan ayah yang harus diselesaikan, begitu juga dengan urusan ibu, dan si anak ditelantarkan begitu saja. Seolah-olah si ayah maupun ibu tidak ada tanggung jawab kasih sayang untuk si anak.

Tidak! Keluarga juga pendidikan. Anak butuh banget pendidikan dari orang tuanya.

Sebenarnya pendidikan untuk pertama kali adalah keluarga. Lihat saja ketika masih bayi, betapa repotnya orang tua melarang si bayi memakan makanan berbahaya, bukankah itu pendidikan juga?

Maka dari itu, jangan pernah lupakan fakta bahwa keluarga adalah pendidikan.

Pendidikan di keluarga adalah penuh dengan kasih sayang, dan inilah yang paling dibutuhkan si anak. Bukan materi yang berlimpah. Buat apa harta yang diterima si anak berlimpah, bahkan bisa dikatakan unlimited tapi hatinya kosong, rindu akan kasih sayang.

5. Pendidikan Bahaya Narkoba Dimulai Keluarga

Love Icon

Pendidikan bahaya narkoba dimulai dari keluarga. Pastinya banyak sekali pengetahuan yang dimiliki ayah maupun ibu mengenai narkoba. Pastinya si ayah dan si ibu sudah melewati akan pendidikan bahaya narkoba. Nah, saatnya untuk mentransfer ilmu yang dimiliki kepada anak kesayangan.

Dengan pendidikan kasih sayang beribu-ribu kali lipat lebih efektif. Bayangannya ini, dua puluh empat jam anak sekolah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, jauh lebih efektif tiga puluh menit pelajaran penuh kasih sayang dari orang tua.

Jadi, pendidikan bahaya narkoba sebaiknya dimulai dari keluarga.