Mungkin Saya Lebih Lemah daripada Ikan

Pagi hari, di hari minggu, saya pergi ke sebuah taman. Biasa, hari minggu itu untuk lari pagi. Rasanya, lari pagi setelah lama tidak menggerakkan tubuh segar banget. Entah kenapa, semua ketegangan otot maupun tulang menjadi luntur seketika. Tubuh rasanya menjadi segar dan enjoy saja. Apakah ini dampak olahraga?

Saya bekerja dari pagi hingga sore hari. Berkutat di hadapan komputer. Katanya, sinar komputer tidak bagus untuk mata. Tapi entahlah, saya berusaha untuk berkontak dekat banget dengan layar komputer.

Dan juga kesibukan saya berhadapan dengan siswa. Membuat saya terpaksa untuk tersenyum walaupun hati ini susah sekali. Atau, terkadang mereka mampu mendatangkan senyuman kepada saya.

Pagi hari, di saat matahari malu-malu menampakkan diri. Sinarnya yang lemah malah membuat diri ini segar. Setengah jam berlari santai keliling lapangan, akhirnya memutuskan untuk bersantai di pinggir danau. Di taman ini ada danau di tengah.

Bukan hanya saya yang beristirahat di sini. Banyak juga orang yang beristirahat. Ada yang sendirian, ada juga yang bersama keluarga, bercengkrama dengan istri/suami dan anaknya. Saya yang masih sendiri entah kenapa ingin seperti pasangan suami istri itu, hahaha dampak jomblo.

Di danau ini ada sebuah ikan. Saya memperhatikan ikan tersebut. Dia berenang dengan semangatnya. Padahal, jujur saja danau ini tidaklah jernih. Bahkan, bisa dibilang kotor, walaupun tidak bisa dibilang sangat kotor.

Para ikan seolah berjuang di tengah kehidupannya yang sulit. Sejujurnya, berdasarkan ilmu pengetahuan, air danau yang kotor ini tidak baik untuk ikan. Mungkin, beberapa penelitian menyebutkan kalau ikan akan mati di air yang kotor.

Para ikan berjuang melawan itu semua. Mereka tahu kalau mereka hidup, dan hidup ini adalah berjuang. Saya tidak mengerti, kenapa mereka mau berjuang di tengah kehidupan yang sulit.

Namun itu hanya beberapa menit saja saya tidak mengerti. Setidaknya saya menemukan sebuah alasan mereka demikian. Mereka hidup, hidup itu berjuang, mereka tidak bisa memilih dilahirkan dalam keadaan apa, mereka hanya bisa ikhlas menerima keadaan, bersyukur dan berjuang keras.

Saya berpikir betapa bodohnya saya. Terkadang saya mengeluh karena kerasnya kehidupan yang saya rasakan. Tapi kalau dipikir-pikir, seandainya saya hidup dalam keadaan seperti ikan tersebut. Udara yang dipenuhi oleh asap CO2 hingga menutupi permukaan Bumi. Tidak ada sinar matahari terlihat. Lalu, harus berjuang lagi bekerja siang malam hingga titik darah penghabisan. Apakah saya akan seperti ikan yang berjuang keras.

Hahaha, saya ini bodoh banget ya. Hanya sedikit saja cobaan yang dihadapi sudah mengeluh. Padahal kalau dipikir-pikir, cobaan itu membuat saya kuat. Saya yakin, kalau ikan yang hidup di danau ini, kalau ditandingkan dengan ikan hidup di air jernih. Air danau ini pasi lebih kuat.

Aduh, matahari sudah meninggi. Berapa jam saya di danau ini ya? Entahlah, saya kemudian melangkahkan kaki menuju rumah. Langkah pertama menuju rumah, saya bertekad untuk menjadi orang lebih baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here