Motivasi Diri Untuk Memulai Menulis Buku

Yang pastinya setiap penulis memiliki motivasi tersendiri mengapa mereka menulis buku. Sepertinya tidak mungkin deh penulis menghasilkan buku tanpa motivasi. Seperti kita juga tuh, kita menjadi sarjana karena termotivasi sesuatu bukan? Hihihi.

Tanpa motivasi itu seperti makanan tanpa garam, hambar banget. Mau melakukan apapun, kalau nggak ada motivasi jadi ogah-ogahan deh. Jangan menjadi orang tanpa motivasi ya!

1. Karena Lingkungan Sekitar

Karena lingkungan sekitar yang minim pengetahuan dan informasi, menjadi motivasi tersendiri untuk menulis. Memberikan pengetahuan mengenai pengetahuan dan informasi untuk lingkungan, wah … bagus tuh.

Erin Callinan, pengarang buku Beautifully Bipolar mengatakan bahwa dirinya kecewa dengan lingkungan sekitar. Dia berkata, “Saya frustrasi dan heran mengapa banyak orang menganggap cacat mental itu suatu yang negatif, menakutkan, dengan informasi yang tidak akurat sama sekali.”

Erin merasa dia harus menyampaikan dan mengubah sudut pandang tersebut. Dia punya suara, punya cerita, lalu mulailah menulis. Awalnya sih tanpa ada batasan atau draft. Dia menulis dengan menuangkan apa saja yang ada dalam pikirannya sambil duduk menyendiri di warung kopi. Dalam menulis, dia bahkan tidak khawatir dengan tata bahasa. Katanya, “Penyempurnaan akan berlangsung pada editing.”

Hoho … bisa jadi nih kita sebagai penulis pemula, ingin menulis sesuatu untuk lingkungan sekitar. Kita ingin memberikan sesuatu kepada lingkungan, ingin mengubah pola pikir, ingin menyampaikan sesuatu, atau ingin mengubah lingkungan menjadi lebih baik.

2. Karena Melihat Orang Melakukan Kesalahan Sama

Kita melihat ada beberapa pola pikir yang sama, tapi itu merupakan kesalahan. Bisa jadi beberapa orang mempercayai suatu hal tapi itu tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Jadi ingin menulis sesuatu yang benar. Atau orang merasa takut dengan hantu padahal itu tidak benar, hantu mah mana bisa mencelakai manusia. Jadi, ingin menulis untuk mengubah pikiran tersebut.

Stephen Monaco penulis Insightful Knowledge menyadari dia harus menulis buku kepada orang yang melakukan kesalahan yang sama, padahal kesalahan tersebut mestinya dihindari. “Saya melihat banyak perusahaan mengambil langkah salah dalam social marketing. Dengan keahlian yang saya miliki mestinya mampu membantu mereka. Karena hal tersebut saya menulis buku social strategy dan marketing,” ujarnya.

Walau tidak punya background dalam hal menulis, dia tidak menyerah. Dia memulai langkah kecil dengan bertanya pada temannya yang hampir menulis 20 buku dan meminta sarannya. Dari hal tersebut dia mengetahui tips dan trik yang dibutuhkan dalam menulis buku.

3. Karena Gagasan Terlalu Besar Jika dimuat di Blog atau Surat Kabar

Kita mungkin lebih suka menulis di blog atau surat kabar. Karena hanya membutuhkan beberapa ratus kata saja. Sedangkan untuk sebuah buku, membutuhkan beribu-ribu jumlah kata.

Namun, ada kalanya gagasan tersebut terlalu besar untuk dimuat di blog atau surat kabar. Gagasan yang dimiliki membutuhkan beberapa ribu kata.

Rohit Bhargava penulis Always Eat Left-Handed-15 Surprisingly Simple Secret of Success. Baginya ketika gagasan terlalu besar maka dia pun menjadikannya sebuah buku.

Wah … bagaimana dengan Anda? Anda memiliki sebuah gagasan besar? Jangan hanya dipendam saja loh, tulislah dan jadikan sebuah buku berharga.

4. Karena Sudah Terkumpul Riset dan Informasi

Nah, misalnya Anda seorang peneliti nih. Anda melakukan sebuah riset besar-besaran. Terus riset tersebut sudah terkumpul. Pastinya banyak sekali informasi di dalamnya. Pertanyaan selanjutnya, untuk diapakan hasil riset tersebut? Apakah hasil tersebut dibiarkan hanya sebuah kalimat, terpendam, dilupakan begitu saja. Atau hasil riset tersebut disebarkan dan berguna untuk orang banyak. Salah satunya dengan menuangkannya dalam sebuah buku.

5. Karena Sudah Memulai Menulis

Anda punya keinginan membuat sebuah buku, lalu Anda pun menulisnya. Namun, karena proses menulis itu sangat membosankan, akhirnya memilih berhenti di tengah jalan.

Anda sudah mulai menulis, padahal Amanda Barbara, wakil presiden penerbit Pubslush, mengatakan bahwa untuk mewujudkan menulis buku, yang utama adalah mulai mengerjakannya.

Setiap orang bisa mengatakan dirinya ingin menulis sebuah buku namun selalu mentok di tengah jalan. Menulis itu adalah proses trial dan error yang memberikan banyak pengalaman.

Iya, menulis itu membutuhkan waktu khusus. Maka dari itu, buatlah waktu khusus untuk menulis. Tidak perlu waktu lama, cukup sedikit waktu namun itu konsisten sampai akhir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here