Mencontek Dapat Menghancurkan Diri Sendiri Secara Perlahan-Lahan

Kalau dilihat-lihat judulnya sedikit berlebihan ya. Tapi kalau dirasakan oleh orang dewasa, yang dulunya tukang contek sewaktu sekolah, akan merasakannya. Betapa tidak bergunanya kegiatan mencontek itu.

Demi mendapatkan nilai tinggi, maka segalanya cara dilakukan. Akhirnya mencontek adalah cara tercepat. Fakta dilapangan juga menyebutkan banyak sekali nilai siswa yang tinggi itu adalah hasil contekan. Tentu saja ini sangat menggiurkan.

Apakah guru tidak mengetahui kalau ada siswa yang mencontek? Ataukah hanya pura-pura tidak tahu. Entahlah, tapi yang pasti, kegiatan mencontek ini sangat menggiurkan dan kalau ketahuan pun, hukuman yang diberikan tidak berat-berat amat. Malah cenderung tidak ketahuan.

Ada beberapa skenario yang terjadi akibat mencontek.

Skenario 1

Scene Icon

Cindi adalah anak yang sangat pintar. IQ-nya tinggi banget. Beberapa kali tes selalu menghasilkan IQ tinggi. Tapi ada satu kelemahannya, malas belajar. Tidak ada gunanya mendapat IQ tinggi tapi malas belajar.

Tapi dia ingin mendapatkan nilai tinggi. Teman satu mejanya ada yang IQ-nya dibawa Cindi tapi rajin belajar. Alhasil temannya lebih pintar.

Cindi tergiur untuk mencontek temannya. Satu kali dia ketagihan, nilai yang dia dapatkan sangat tinggi. Bahkan nilainya membuat bangga orang tua. Terbesit ada perasaan malu tapi perasaan tersebut dia tekan.

Dia mencontek dan mencontek dan itu berlangsung hingga akhir perkuliahan. Ketika di lingkungan pekerjaan, akhirnya terbentur oleh pengetahuan. Ternyata ilmu pengetahuan yang dia miliki sangat sedikit. Dan dunia pekerjaan tidak mendukung Cindi sedikitpun. Cindi menyesal.

Skenario 2

Scene Icon

IQ Dede sih biasa saja, ditambah malas belajar Tapi dia mau nilai tinggi. Soalnya dengan nilai tinggi, dia dapat sombong kepada orang tua maupun teman. Akhirnya cara yang paling cepat adalah mencontek.

Kebetulan Dede ini pandai bergaul sehingga banyak sekali teman yang dia punya. Dia tahu keahliannya dan akhirnya dia mendekati teman yang rajin belajar. Karena rasa pertemanan, Dede mendapat contekan yang bagus. Nilai yang dia dapatkan sangat tinggi..

Tapi, ketika ujian masuk perguruan tinggi negeri, tidak ada teman yang dia punya. Samping kiri kanan adalah orang asing yang sangat pelit. Tidak dibiarkan sedikitpun celah untuk mencontek. Dede kebingungan. Dia ingin lulus tapi tidak tahu apa yang dia lakukan. Soal yang diberikan sangat sulit untuk dikerjakan.

Akhirnya nilai yang didapat Dede percuma. Nilai yang dia dapatkan sewaktu sekolah memang tinggi, tapi nilai itu hanyalah sebatas angka. Ketika diberikan tes untuk membuktikan nilainya, tidak bisa dibuktikan. Menyesal? Tentu iya tapi tidak ada gunanya.

Skenario 3

Scene Icon

Heri sangat suka mencontek. Keahlian dia mencontek sudah tingkat expert. Walaupun peraturan sekolah ketat masalah mencontek ini tapi dia mampu melakukan tanpa ketahuan. Dia bahwa menjadi orang sombong.

Nilai yang dia dapatkan tentu tinggi semua, bahkan dia termasuk top siswa terpintar di sekolah. Sekolah mana peduli darimana nilai yang didapat Heri. Yang penting nilai Heri tinggi maka dia termasuk siswa pintar menurut sekolah.

Tapi, sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Pada saat ujian ternyata si pengawas adalah guru mantan pencontek. Beruntung si guru menyadari lebih awal bahwa mencontek itu tidak baik, dia berhenti, belajar dari nol, dan akhirnya dia berhasil menggapai impiannya. Karena dia mantan tukang contek level expert tidak tidak ingin orang lain mencontek.

Heri ketahuan mencontek. Teman-temannya sih tidak heran. Karena peraturan sekolah, Heri pun dikeluarkan secara tidak hormat. Yang ada dalam benak Heri adalah penyesalan.

Kesimpulan

conclusion icon

Sebenarnya banyak sekali cerita penyesalan bagi tukang contek dan ujungnya menghasilkan penyesalan. Mau waktu diulang tidak mungkin. Tapi mau belajar dari nol sepertinya tidak bisa. Bisa sih tapi karena usaha yang dibutuhkan keras sehingga banyak orang menyerah.

Menyesal itu tidak ada gunanya. Sebenarnya nilai itu hanyalah sebatas tinta di atas kertas. Di dunia dewasa tidak ada gunanya. Tapi ya di sekolah selalu melihat nilai dibandingkan kemampuan sehingga tanpa sadar terpola sebuah pemikiran bahwa nilai itu yang terpenting dibandingkan kemampuan.

Di dunia orang dewasa, nilai itu tidak penting. Yang penting kemampuan. Banyak orang yang nilainya rendah tapi kemampuannya sangat baik. Dia menjadi orang sukses di dunia dewasa. Eh iya juga ya. Kalau dilihat-lihat kebanyakan orang sukses itu tidak memiliki nilai yang tinggi-tinggi amat di sekolah.

Jadi, sebelum terlambat, jangan biasakan mencontek. Banggalah menjadi siswa yang nilai rendah tapi hasil kemampuan sendiri. Walaupun nanti dikucilkan sih karena nilai rendah. Belum lagi orang tua yang tiba-tiba sakit kepala kalau nilainya rendah. Tapi nggak masalah. Yang penting itu bukan di waktu sekolah, tapi di waktu dunia pekerjaan. Di dunia sekolah berapa tahun cuman? Paling lama hanya 20 tahun. Selebihnya adalah dunia pekerjaan yang dilakukan sampai tua renta.

So, jadilah bangga dengan nilai hasil kemampuan diri sendiri 100%.