Membiarkan Diri Bersama Matahari Pagi

Senin, tanggal dirahasiakan dan tahun juga dirahasiakan. Hari yang cerah, benaran cerah, nggak bohong deh. Aku berada di bawah terik matahari, membiarkan diriku disinari oleh matahari.

Katanya sinar matahari di pagi hari itu baik, mampu menjadi katalis untuk membentuk vitamin D. Artinya, bagi yang sering membiarkan dirinya disinari matahari di pagi hari, maka tulang yang dimiliki akan kuat. Entahlah, aku hanya percaya dengan apa yang dikatakan oleh peneliti dan juga guruku.

Rasanya, apa yang dikatakan demikian itu benar apa adanya. Penelitian itu bukan sekadar karangan tanpa ada pembuktian. Mungkin ilmuwan terdahulu yang telah membuktikannya, mencurahkan segala tenaganya hanya untuk ini.

Di kota besar ini, Jarang aku melihat manusia yang membiarkan dirinya disinari oleh matahari. Aku yakin mereka tahu akan manfaat besar dari sinar matahari. Namun, mereka lebih memilih menutup tubuh mereka.

Memang iya, panas, bikin dahaga haus. Siapa yang suka dengan panas, tidak ada yang suka. Hanya segelintir orang yang suka dengan udara panas. Namun, apakah karena ketidaksukaan itu membuat kita membencinya? Walaupun itu untuk kebaikan kita sendiri?

Sesuatu yang terlihat menyakitkan, walaupun itu tidak begitu menyakitkan namun memberikan dampak yang baik, kita rata-rata tidak suka akan hal tersebut. Aku ingat, betapa marahnya ibu ketika aku membuang sayuran. Aku tidak suka sayur. Rasanya begitu pahit. Aku lebih suka ice cream yang rasanya manis. Dan aku tahu kalau sayuran itu sangat baik untuk kesehatan, tapi aku tidak memakannya.

Oh iya juga, ketika diperhatikan, banyak sekali orang dewasa yang tulangnya mulai patah-patah. Hahaha, bahasa yang kugunakan agak gimana … gitu, “patah-patah”.

Patah-patah ini bukan dalam artian sebenarnya. Entah kenapa gitu, padahal masih muda, masih berusia kepala tiga, tapi kerap terjadi sakit tulang. Ketika berusaha sedikit keras saja, misalnya mengangkat beban 10 kg saja, tulangnya sudah patah. Belum lagi betapa malasnya orang dewasa berusia kepala tiga naik turun tangga. Kata mereka tulangnya terasa patah.

Ada penelitian untuk membuktikan hal tersebut. Tapi rasanya aku malas untuk memberikan data penelitian, karena dalam keseharian kita sudah terlihat jelas di depan mata kita.

Kita melihat orang tua zaman dulu begitu kuat dan sehat. Sakit pun hanyalah sakit ringan. Tapi entah kenapa, orang tua zaman sekarang mudah sekali terkena penyakit. Penyakit yang diderita juga bukan main-main. Sekali berobat ke rumah sakit untuk penyakitnya mampu menghabiskan ratusan juta rupiah, mungkin.

Kadang aku ingin mengatakan kepada orang-orang, jangan takut akan mentari pagi. Memang agak tidak enak sedikit, namun itu memberikan manfaat yang besar. Apa salahnya hanya berjemur beberapa menit di bawah sinar matahari. Kulit juga tidak berubah menjadi hitam. Sinar matahari yang mampu mengubah kulit adalah sinar matahari siang.

Seperti biasa, aku membiarkan tubuhku disinari oleh mentari pagi. Aku membentangkan tanganku selebarnya dan menarik nafas sedalam mungkin. Aku berkata dalam hati, “Selamat datang matahari, biarkan sinarmu memberikan sejuta manfaat bagiku.”

5 menit kemudian, aku pergi berlalu, bergabung dengan lautan manusia, memulai aktivitas sehari-hari hingga malam tiba.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here