Rangkuman Sistem Koloid – Pengertian, Jenis, Sifat dan Manfaat

Koloid adalah campuran bersifat antara larutan dan suspensi. Secara kasat mata terlihat mirip seperti larutan namun komponen penyusunnya masih dapat dilihat dengan mikroskop. Biasanya terlihat keruh. Contohnya air dan susu.

Perbedaan Koloid, Larutan, dan Suspensi

Secara umum, perbedaan mengenai koloid, larutan, dan suspense dapat dilihat pada tabel di bawah:

Koloid
  • Heterogen
  • Dimensi antara 1 nm – 100 nm
  • Tersebar merata
  • Tidak memisah jika didiamkan
  • Dapat dilihat dengan mikroskop ultra
  • Tidak dapat disaring
Larutan
  • Homogen
  • Dimensi kurang 1 nm
  • Tersebar merata
  • Tidak memisah jika didiamkan
  • Tidak dapat dilihat dengan mikroskop ultra
  • Tidak dapat disaring
Suspensi
  • Heterogen
  • Dimensi lebih dari 100 nm
  • Mengendap
  • Memisah jika didiamkan
  • Dapat dilihat dengan mikroskop biasa
  • Dapat disaring dengan saringan biasa

Jenis-Jenis Koloid

Secara garis besar, jenis-jenis koloid terbagi yakni:

Terdispersi Pendispersi Nama Koloid Contoh
Cair Gas Aerosol Cair Kabut, awan
Padat Gas Aerosol Padat Asap, debu
Gas Cair Buih Busa sabun, krim kocok
Cair Cair Emulsi Susu, santan
Padat Cair Sol Tinta, cat
Gas Padat Buih Padat Karet busa, batu apung
Cair Padat Emulsi Padat Mutiara, Opal
Padat Padat Sol Padat Gelas warna, intan

NB:
Fase terdispersi adalah zat terlarut.
Fase pendispersi adalah zat pelarut.

Sifat-Sifat Koloid

Pada koloid ini mempunyai beberapa sifat di dalamnya seperti efek tyndal, gerak brown, elektroforesis, adsorpsi, dan koagulasi.

1. Efek Tyndal

Efek Tyndal adalah peristiwa penghamburan cahaya bila dipancarkan melalui sistem koloid.

Contoh dari Efek Tyndal:

  • Berkas sinar proyektor film di bioskop dan bekas cahara lampu mobil ketika malam dengan kabut.
  • Warna biru langit juga disebabkan partikel koloid di udara yang menghamburkan cahaya matahari.

2. Gerak Brown

Gerak Brown adalah gerakan dari partikel terdispersi dalam sistem koloid terjadi karena adanya tumbukan antar partikel, gerakan tersebut bersifat acar dan tidak berhenti.

Contoh Gerak Brown:

  • Gerakan debu yang terlihat pada bekas sinar matahari.
  • Gerakan partikel pada segelas susu ketika terkena cahaya.

3. Elektroforesis

Elektroforesis adalah perpindahan partikel dalam sistem koloid karena pengaruh medan listrik.

Contoh Elektroforesis:

  • Pelapisan cat antikarat pada bodi mobil. Partikel cat pada bodi mobil yang dialiri listrik secara elektroforesis lebih kuat dibandingkan dengan cara konvensional.
  • Penyaringan debu pada pabrik.

4. Adsorpsi

Adsorpsi adalah proses penyerapan pada permukaan benda atau ion yang dilakukan oleh sistem koloid sehingga sistem koloid tersebut mempunyai muatan listrik.

Contoh Adsorpsi:

  • Koloid besi (III) hidroksida (Fe(OH)3) dalam air untuk menyerap ion positif.
  • Koloid arsen (III) sulfida (As2S3) dalam menyerap ion negatif.

5. Koagulasi

Koagulasi adalah partikel koloid membentuk suatu gumpalan lebih besar.

Contoh Koagulasi:

  • Pembentukan delta pada muara sungai.

Penggumpalan debu pada cerobong asap pabrik.

Koloid Liofil dan Koloid Liofob

Koloid liofil merupakan koloid dengan fase terdispersi suka menarik fase pendispersi. Hal ini disebabkan gaya tarik antara partikel-partikel fase terdispersi dengan fase pendispersi kuat.

Koloid liofob merupakan koloid dengan fase terdispersi tidak suka menarik fase pendispersi. Hal ini disebabkan gaya tarik antara partikel-partikel fase terdispersi dengan fase pendispersi lemah.

Liofil Liofob
Stabil pada zat terdispersi dengan konsentrasi kecil maupun besar Stabil hanya pada zat terdispersi dengan konsentrasi kecil
Koagulasi terjadi apabila ditambahkan zat elektrolit dengan jumlah banyak Mudah terjadi koagulasi dalam zat elektrolit
Ketika terjadi koagulasi maka akan berbentuk gumpulan seperti gel Ketika berkoagulasi akan berbentuk mayonaise
Kestabilan tidak terpengaruh pada dialisis Kestabilan terpengaruh pada dialysis
Bersifat reversibel Bersifat Irreversibel
Efek Tyndall tidak terlihat jelas Efek Tyndall terlihat jelas
Viskositas besar bila fase pendispersi murni, bila didiamkan lama akan menyerupai agar-agar Viskositas kecil
Tekanan permukaan pendispersi terpengaruh pada partikel terdispersi Tekanan permukaan pendispersi tidak terpengaruh pada partikel terdispersi

Sifat hidrofob dan hodrofil dimanfaatkan pada saat pencucian pakaian dengan penggunaan detergen. Apabila kotoran yang menempel pada pakaian tidak mudah larut dalam air, misalnya lemak dan minyak, maka dengan bantuan detergen, kotoran tersebut ditarik oleh detergen. Dikarenakan detergen larut dalam air maka kotoran tersebut dapat ditarik dari pakaian. Kemampuan detergen menarik kotoran pada pakaian dikarenakan molekul detergen terdapat ujung-ujung liofil yang larut dalam air dan ujung-ujung liofob yang dapat menaik kotoran dari pakaian. Akibat adanya tarik menarik, sehingga tegangan permukaan kotoran pada pakaian menjadi lemah dan daya tarik-menarik antara molekul air mengikat kuat dengan detergen.

Pembuatan Sistem Koloid

Koloid bukan hanya terbentuk secara alami saja, namun bisa juga dengan pembuatan. Pembuatan sistem koloid ini umumnya dilakukan dengan dua cara, yaitu kondensasi dan dispersi.

1. Pembuatan Sistem Koloid dengan Cara Kondensasi

Pembuatan sistem koloid dengan cara kondensasi yaitu dengan menggabungkan partikel dengan ukuran besar seperti molekul dengan partikel koloid yang berukuran kecil. Pada pembuatan sistem koloid dengan cara kondensasi umumnya dilakukan dengan tiga cara, yakni: reduksi-oksidasi, dekomposisi, dan hidrolisis.

  • Reduksi-Oksidasi
    Pada pembuatan koloid reduksi-oksidasi pada pembuatan sol bereaksi dengan reaksi:
    2H2S(g) + SO2(aq) → 3S(koloid) + 2H2O(l)
  • Dekomposisi
    Pada dekomposisi misalnya pada pembuatan sol perak klorida dengan reaksi:
    AgNO3(aq) + HCl(aq) → AgCl(koloid) + HNO3(aq)
  • Hidrolisis
    Pada hidrolisis misalnya pada pembuatan sol besi (III) hidroksida dengan reaksi:
    FeCl3(aq) + 3H2O(l) → Fe(OH)3(koloid) + 3HCl(aq)

2. Pembuatan Sistem Koloid dengan Cara Dispersi

Pembuatan sistem koloid dengan cara disperse yaitu dengan mengubah partikel berukuran besar menjadi partikel berukuran kecil, partikel koloid. Pada pembuatan sistem koloid dengan cara disperse umumnya dilakukan dengan tiga cara, yakni: mekanik, peptisasi, menggunakan busur bredig.

  • Mekanik
    Pada mekanik dengan cara menggerus butir karas sampai terbentuk partikel dengan ukuran koloid kemudian dicampurkan dengan media pendispersi melalui pengadukan.
  • Peptisasi
    Pada peptisasi dengan cara memecah partikel besar dengan zat pemecah seperti peptid sampai terbentuk partikel koloid dengan ukuran yang ditentukan. Misalnya, proses pemecahan protein dengan bantuan enzim.
  • Menggunakan Busur Bredig
    Pada pembuatan menggunakan busur bredig dilakukan pada pembuatan sol logam dengan cara membuat logam sebagai elektroda dan kemudian dialiri listrik sehingga logam terlepas ke air sebagai media dan kemudian logam tersebut mengalami kondensasi membentuk partikel ukuran koloid.

Manfaat Koloid

Sistem koloid memiliki segudang manfaat yang bermanfaat pada kehidupan sehari-hari. Seperti proses pencucian darah pada pasien gagal ginjal maupun penjernihan air. Namun ada juga kerugian yang ditimbulkan seperti hampir keseluruhan partikel-partikel polutan yang ada di udara adalah partikel koloid.

1. Dialisis

Pada proses penghilangan ion-ion mengganggu kestabilan koloid, dimana pada proses dialisis, sistem koloid dimasukkan ke dalam suatu kantong dari selaput semipermiabel (selaput yang dapat melewatkan partikel kecil tapi tidak mampu melewatkan partikel koloid). Sehingga dihasilkan partikel koloid murni.

Contohnya:

Proses dialisis digunakan pada proses cuci darah pada pasien yang mengalami gagal ginjal. Proses pencucian darah tersebut disebut hemodialisis.

2. Koloid Pelindung

Koloid pelindung tersebut digunakan untuk menstabilkan sistem koloid yang perlu dijaga kestabilannya dimana koloid pelindung tersebut akan membungkus partikel zat terdispersi agar tidak mengelompok.

Contohnya:

Gelatin digunakan pada koloid pelindung untuk pelindung es krim agar tidak membentuk pembentukan kristal es.

3. Pengelolahan air

Untuk pengelolahan air bersih juga menggunakan sifat-sifat pada sistem koloid seperti adsorpsi dan koagulasi.

Contohnya:

Koagulasi terjadi pada tawas (aluminium sulftat) yang berfungsi sebagai penggumpal pada lumpur koloid sehingga pada proses selanjutnya lumpur tersebut akan disaring.

Adsorpsi terjadi pada tawas (aluminium sulfat) yang akan membentuk Al(OH)3 yang menyerap (adsorpsi) zat-zat pewarna dan pencemar lain.

4. Polusi

Pada partikel di udara, umumnya partikel-partikel polutan berbentuk koloid seperti debu dan asap.