Kita Tidak Bisa Hidup Sendirian, Kita Butuh Teman

Mungkin beberapa dari kita ada yang berpikir bahwa bisa hidup sendirian. Mungkin kalau dipikir sekilas memang benar. Kita yang telah sukses, setidaknya bisa untuk mencukupi diri sendiri. Bisa berjuang sendirian di tengah kesibukan dan kejamnya kota besar. Bahkan bisa menyisihkan uang untuk ditabung di hari tua.

Namun sebenarnya, kita tidak bisa hidup sendirian. Ketika kita hidup sendirian, maka ada rasa yang kurang dalam diri. Ada sebuah lubang kosong yang menyebabkan kita sebagai manusia merasa kurang.

Maksud dari hidup sendiri ini adalah kita yang tidak mempunyai teman. Menutup diri dari lingkungan pertemanan. Bahkan ada yang menganggap menutup diri di dalam rumah, mengunci hati ini, itu sudah cukup. Ada juga yang menganggap, masih banyak teman online di luar sana. Sebenarnya, kita membutuhkan teman yang bisa diajak bercanda dan menemani di kala sedih.

Kita Kesepian

Inilah terlebih dahulu yang selalu dirasakan setiap orang yang hidup sendirian. Kesepian? Iya, kesepian. Mungkin ketika sibuk, rasa kesepian ini tidak akan terasa. Namun, tidak mungkin selamanya kita sibuk. Tidak mungkin selamanya kita mampu mengalihkan pikiran. Ada masanya kita tidak bisa melakukan apa-apa. Ketika itukah muncullah rasa sepi.

Rasa sepi ini tidaklah enak. Rasa sepi ini mampu menusuk dada. Mengingatkan bahwa kita ini begitu menyedihkan. Mengingatkan betapa bodohnya kita karena keputusan sendiri. Mengingatkan kita bahwa perlunya teman untuk berbagi.

Mungkin banyak alasan dari kita memilih untuk sendirian. Namun, apapun alasan itu, ketika di kala sepi datang, penyesalan akan selalu ada. Itulah yang membuat hati ini semakin tertusuk oleh rasa sepi.

Kadang, dengan melakukan pertemanan online yang wajah aslinya pun kita tidak tahu, rasa sepi bisa diobati. Tapi itu hanya dalam waktu sementara saja. Kita membutuhkan teman yang sebenarnya. Teman yang bisa diajak bertemu, tertawa, menangis, dan dia ada di samping kita.

Kita Kosong

Pernah merasakan kalau kita ini sepertinya kosong. Tidak ada emosi yang terluap dalam diri kita. Emosi yang ditunjukkan ke semua orang hanyalah kepalsuan. Kita tidak bisa meluapkan emosi yang sebenarnya dalam dada.

Ketika perasaan emosi itu tidak bisa dilupakan, maka berakhirnya akan kekosongan. Tidak ada yang bisa dinikmati dalam dunia ini. Tatapannya juga semakin kosong, tentu saja ketika dalam kesendirian. Kalau di keramaian sih, bakal menunjukkan emosi yang hangat.

Hingga timbullah perasaan bahwa hidup ini tidak berguna. Hidup ini hanyalah untuk menciptakan kebohongan. Hidup ini hanyalah untuk mereka yang mampu menunjukkan kebohongan. Kalau sudah sampai di tahap ini, bahaya nih. Harus segera diobati nih. Takutnya, akan berakhir akan depresi.

Kita Menjerit

Dalam lubuk hati yang paling dalam sebenarnya ingin sekali mempunyai teman, tapi terus menutup diri akan perasaan tersebut. Hingga akhirnya kita tidak mampu menahan semua emosi yang tertahan. Akhirnya menjerit satu-satunya cara yang dilakukan.

Masalahnya, kalau menjerit di dalam hati sih tidak bakal kedengaran orang. Kecuali kalau menjerit di dalam hati sambil bertingkah laku aneh. Banyak loh yang macam ini. Hati menjerit dan tingkah lakunya aneh banget. Menjadi masalah lebih besar lagi ketika menjerit kuat sekali. Seakan-akan dunia telah berakhir. Dan tingkah lakunya aneh pula lagi.

Mungkin sekarang masih bisa ditahan. Tapi suatu hari nanti, apa yang tertahan di dalam dada tersebut tidak bisa ditahan. Hingga akhirnya meluapkan segalanya. Bahkan ketika meluapkan segalanya tersebut, logika berjalan lagi.

Kita Butuh Teman

Sebenarnya kita butuh teman, walau hanya satu. Tidak perlu banyak-banyak mempunyai teman. Karena satu teman berharga, itu seperti seribu teman. Dia yang membuat tertawa, menemani di kala sedih, mengingatkan, menolong, dan berbagi lainnya dan itu sangatlah menyenangkan.

Walaupun mungkin pertengkaran tidak mungkin terelakkan. Namun, kerinduan ingin berteman kembali sangat besar, hingga akhirnya berteman lagi.

Jujurlah, kita butuh teman.