Ketika Kuliah Merasa Memilih Salah Jurusan

Kehidupan perkuliahan itu penuh warna. Ada merasa senang banget akan perkuliahan. Seolah perkuliahan itu adalah hal yang sangat diminati. Ada dengan perkuliahan penuh pengalaman. Betapa banyak pengalaman yang dapat diambil. Ada juga yang merasa tertekan. Mereka yang tertekan adalah ketika merasa salah jurusan.

Kenapa sih bisa merasa salah jurusan? Ya … kemungkinan besar karena terasa begitu sulit dalam menghadapi kuliah. Apalagi melihat teman-teman yang gampang banget memahami perkuliahan.

Belum lagi nilai yang memang anjlok banget. Bahkan ada yang berusaha mengulang, ehm, sebenarnya tidak lulus perkuliahan kemungkinan besar karena tidak mematuhi aturan perkuliahan. Seperti: hadir tepat waktu, absensi bagus, mengikuti ujian, dll. Mahasiswa yang mengulang rata-rata tidak mematuhi aturan. Seperti: sering absen maupun absen saat ujian.

1. Itu Wajar

Merasa salah jurusan itu wajar. Mungkin, hampir semua orang merasa salah jurusan. Kenapa bisa demikian? Karena sistem pembelajaran pada saat perkuliahan tidak seperti SMA. Di waktu SMA bolehlah guru berusaha menjelaskan pelajaran dengan penjelasan pelan-pelan, alias berusaha membuat siswanya mengerti. Kalau perkuliahan? Tidak demikian. Harus ada inisiatif dari mahasiswa. Bahkan, ada juga dosen yang tidak peduli apakah si mahasiswa mengerti atau tidak.

Belum lagi dengan tugas yang banyak banget. Saking banyaknya membuat si mahasiswa rela begadang satu malam suntuk. Lelah sih lelah mengerjakan tugas satu malam. Tapi terpaksa, kalau tidak demikian tugas tidak selesai.

Karena hal tersebutlah kadang diri merasa salah jurusan. Belum lagi melihat rumput tetangga lebih hijau. Melihat teman yang beda jurusan, kehidupan perkuliahannya baik-baik saja. Belum lagi merasa kalau jurusan teman itu mudah banget dirasa. Padahal, yang dilihat itu adalah luarnya. Bisa jadi, jurusan si teman lebih parah dibandingkan jurusan kita.

2. Coba Ingat Perjuangan

Strong icon

Perjuangan mencapai bangku perkuliahan sangat tidak mudah. Apalagi bagi yang tembus di bangku Universitas Negeri. Rasanya perjuangan itu begitu berat. Coba ingat-ingat! Dulu berjuang agar bisa kuliah. Kursus diikuti, latihan soal diperbanyak, bahkan kepoin Universitas dituju tidak tanggung-tanggung.

Bahkan ada yang merantau keluar kota agar mendapat pendidikan yang layak, kursus maksudnya. Diharapkan dia tidak akan kalah saing dibandingkan dengan orang lain.

Ketika lulus di salah satu perguruan tinggi, rasanya senang sekali. Bahkan ada tuh yang membuat postingan di media sosialnya. Tiba-tiba mimpi terwujud. Ingin rasanya belajar keras di Universitas agar menjadi mahasiswa terbaik. Lulus tepat waktu, bahkan kalau bisa paling cepat lulus. Prestasi di waktu perkuliahan menggunung, baik itu secara akademis maupun non akademis.

3. Kuliah Memang Tidak Mudah

Sad Icon

Siapa bilang kuliah itu mudah? Tidak! Kuliah itu tidak mudah. Dibandingkan dengan sistem belajar SMA dulu, sangat jauh dari perkuliahan. Di SMA pembelajaran berpusat pada siswa 10%, namun di perkuliahan pembelajaran berpusat pada mahasiswa 100%.

Tugas-tugas menggunung, bisa-bisa penuh satu lemari oleh kertas tugas. Belum lagi kadang dosen tidak punya hati. Sudahlah, lengkap sudah penderitaan di waktu perkuliahan.

Mungkin si mahasiswa nomor satu di kampung halamana. Namun, ketika di Universitas, yang mana di sana adalah orang-orang yang pintar pula. Persaingan menjadi semakin ketat. Para mahasiswa juga berlomba-lomba untuk yang terbaik, baik itu dilakukan dengan adil maupun tidak.

Wajar kalau perkuliahan tidak mudah. Yang mengatakan perkuliahan mudah itu sebenarnya tidak benar.

4. Akan ada Hikmahnya

conclusion icon

Ada salah seorang teman pernah berkata. Dia dulu tidak suka akan bangku perkuliahan. Setiap tahun dia selalu merasa kalau dia salah jurusan. Dunia memang kejam kepadanya. Setiap dia mencoba pindah jurusan ataupun pindah Universitas, hati dia selalu ragu. Dia terus memaksakan dirinya untuk terus berada di bangku perkuliahan.

Dorongan untuk tidak menyelesaikan perkuliahan selalu ada. Karena memang dia merasa salah jurusan, alasan untuk meninggalkan perkuliahan semakin kuat.

Tapi, ada saja di satu titik, dia ingin menyelesaikan perkuliahan.

Akhirnya dia berhasil wisuda, walaupun dalam waktu yang lama. Dia hampir saja di DO.

Tapi ketika di lingkungan pekerjaan, dia akhirnya memiliki ilmu yang cukup. Rasanya perjuangan selama di bangku perkuliahan ada hikmahnya.

Beruntung dia terus melanjutkan perkuliahan walaupun berlainan dengan kata hatinya. Karena akhirnya dia mendapat balasan yang manis setelah wisuda.

Ingatlah! Selalu ada hikmah di balik kejadian.

Merasa salah jurusan itu wajar. Ada jutaan mahasiswa pernah merasakan demikian namun jutaan mahasiswa tersebut berhasil melewatinya. Mereka tidak menyerah, mereka bertahan, dan akhirnya berhasil.

Jangan pernah menyerah!