Kenapa Pelajaran Matematika dan Bahasa Itu Penting?

Pelajaran sains dan sosial itu bisa dibilang sangat perlu bagi pendidikan anak Sekolah Dasar (SD). Namun kenyataan pelajaran sains dan sosial sedikit sekali dipelajari. Kebanyakan pelajaran berfokus pada matematika dan membaca (bahasa).

Padahal pelajaran sains dan sosial itu perlu untuk menumbuh kembangkan minat anak. Kalau si anak sudah minat sesuatu, misal minat akan ilmu sosial, maka dia akan mendalami ilmu tersebut.

Seolah-olah memberikan stigma kepada anak bahwa pelajaran matematika dan bahasa itu paling penting. Terkhusus pelajaran matematika, entah kenapa sudah menjadi standar kepintaran anak akhir-akhir ini. Kalau seorang anak pintar matematika, maka dia dianggap anak yang pintar. Tapi kalau tidak pintar matematika, maka dianggap kurang pintar.

Sebenarnya apa yang mendasari kenapa pada saat SD, apalagi kelas 1-3, dikhususkan untuk meningkatkan keahlian matematika dan bahasa? Selain terpaksa karena kurikulum tentunya.

Matematika dan Bahasa Merupakan Dasar Ilmu

Inilah awal mula bahwa pelajaran matematika dan bahasa adalah dasar ilmu. Dengan ilmu matematika maka pelajaran sains akan dengan mudah dipahami. Begitu juga dengan bahasa, maka pelajaran sosial, termasuk sastra akan dengan mudah dipahami.

Maka berfokus terlebih dahulu pada pelajaran dasar, sampai benar-benar ahli. Maka ketika sudah ahli dalam pelajaran dasar, maka sedikit demi sedikit disusupi pelajaran selanjutnya,  sains dan sosial.

Kemampuan matematika dan bahasa juga penting dalam kehidupan sehari-hari. Betapa banyaknya perhitungan dasar yang dilakukan dalam kehidupan. Misalnya menghitung uang kembalian saat berbelanja, menghitung jumlah uang dalam berbelanja, menghitung uang, dll. Begitu juga dengan bahasa, misalnya membaca nama toko, petunjuk jalan, nama jalan, dll.

Sebenarnya pelajaran matematika dan bahasa bukanlah pelajaran yang mudah. Mungkin karena kita sudah remaja/dewasa, sudah melakukan perhitungan dan membaca jutaan kali, maka bisa berkata kalau matematika dan bahasa saat SD itu mudah. Namun pernah nggak mengingat dulu saat SD, saat mulai belajar matematika dan bahasa,  begitu sulit, bukan?

Matematika dan Bahasa itu Sulit

Seperti yang sudah diulas sebelumnya, matematika dan bahasa itu sulit, bagi anak SD. Walaupun itu ilmu dasar, tapi itu sulitnya minta ampun. Butuh jutaan latihan baru akhirnya ahli dalam matematika dan bahasa.

Saya dulu pernah mengingat, hampir setiap malam berlatih berhitung. Padahal kalau diingat-ingat itu hanyalah perhitungan sederhana. Seperti 1+1, 2+2, 10+2, dll dan itu sulitnya minta ampun. Banyak sekali terjadi kesalahan. Begitu juga dengan belajar membaca dulu. Walaupun hanya membaca sebuah kalimat, “Nama saya Budi” tapi itu sulitnya minta ampun.

Jadi jangan menganggap matematika dan bahasa itu mudah, itu sangat sulit.

Maka dari Itu Matematika dan Bahasa Sangat Dalam Dipelajari

Karena hal tersebutlah makanya matematika dan bahasa sangat dalam dipelajari. Begitu banyak variasi yang dipelajari dalam matematika dan bahasa. Keseluruhan pelajaran tersebut untuk menunjang ilmu pengetahuan berikutnya.

Betapa pentingnya ilmu matematika dasar pada pelajaran IPA (kimia, fisika, matematika, dll) dan betapa perlunya ilmu bahasa pada pelajaran Sosial (hukum, ekonomi, sejarah, dll). Eh sebenarnya ilmu matematika dan bahasa tidak dapat dipisahkan juga sih.

Saat ini banyak sekali anak SD yang kesulitan berhitung dan membaca. Beberapa waktu yang lalu, di sebuah tempat terpencil memang, ada anak SMA yang kesulitan berhitung dan membaca. Alhasil, di pelajaran lainnya dia pun kesulitan. Walaupun si anak memiliki kemampuan seni yang baik (seperti melukis misalnya), tetap saja dibutuhkan kemampuan matematika dan bahasa dasar. Misal untuk mencari inspirasi pada lukisan fiksi, membutuhkan kemampuan membaca. Membeli alat lukisan saat dewasa kelak, membutuhkan kemampuan berhitung.

Kesalahan Anggapan Matematika sebagai Penentu

Inilah kesalahan yang sekarang terjadi. Banyak yang beranggapan kalau anak yang ahli matematika itu adalah anak pintar. Sedangkan anak yang kurang matematika itu kurang pintar.

Kalau diperhatikan secara obyektif, anak yang mendapat juara kelas adalah mereka yang ahli berhitung. Dalam kurikulum dilakukan penilaian kemampuan berhitung dan membaca. Anak yang mampu matematika tapi lemah dalam bahasa, itu bisa dimaafkan. Nilai bahasanya dibuat tinggi. Tapi anak yang kemampuan bahasa tinggi tapi matematika rendah,  itu tidak bisa dimaafkan. Inilah yang akhirnya menjadi jurang.

Sehingga ketika sekolah semakin tinggi, terlihat jelas bahwa anak yang ahli dalam IPA, mereka golongan eksklusif, sedangkan anak yang ahli dalam IPS, mereka golongan biasa saja.

Hal seperti ini sangatlah salah. Bukankah kecerdasan manusia terbagi-bagi? Tapi kenapa hanya kemampuan berhitung saja yang diperhitungkan.

Jangan Mengabaikan Pelajaran Matematika dan Bahasa

Dikarenakan begitu pentingnya, maka pelajaran matematika dan bahasa ini tidak boleh diabaikan. Makanya karena matematika dan bahasa merupakan ilmu dasar, maka fokus pembelajaran saat SD adalah matematika dam bahasa. Walaupun sebenarnya ilmu sains dan sosial itu sangat penting. Karena itulah pada saat kelas 4-6 SD, disisipkan pelajaran sains dan sosial sedikit demi sedikit.