Kenapa Ketika Demam Suhu Tubuh Meningkat?

Ketika kita demam, tiba-tiba saja suhu tubuh rasanya panas banget. Kalau dipegang tuh kening, rasanya sudah bisa merebus telur. Kadang pernah nggak sih kita berpikir, kenapa tubuh bisa panas? “Nggak, nggak pernah kepikiran tuh, apa yang terjadi terjadilah.” Yee … sebaiknya jangan begitu deh.

Jadi, begini ceritanya. Ketika tubuh kita sehat, nah itu adalah sasaran empuk untuk bakteri atau virus. Entah itu mereka ingin mencari rumah baru atau ingin menghancurkan tubuh.

Nah, si bakteri atau virus ini masuk secara diam-diam ke dalam tubuh. Ya dong, mesti diam-diam. Kalau terang-terangan ntar nggak bisa masuk lagi. Kan tubuh memiliki security yang kuat banget dan sudah terlatih puluhan tahun.

Ceritanya nih, bakteri dan virus ini masuk ke dalam tubuh. Dan ternyata, tubuh kita langsung mengenali si bakteri atau virus tersebut. Segera deh alarm tubuh berbahaya berbunyi. Beberapa tentara tubuh akan datang melawan si penjahat ini. Misalkan nih bakteri dan virus adalah penjahat. Kan penjahat itu merusak, bakteri dan virus merusak tubuh.

Tubuh sudah tahu kalau bakteri dan virus itu tidak tahan terhadap suhu panas. Karena nih ceritanya, kalau penjaga tubuh ini (leukosit) melawan bakteri atau virus, mereka akan kewalahan.

Jadi untuk mempermudah kerja si leukosit dan untuk membuat si bakteri atau virus minggat atau tak berdaya di dalam tubuh, dipanaskanlah tubuh. Nah si pengatur suhu tubuh ini namanya thermostat.

Sehingga apa, bakteri ataupun virus menjadi kewalahan. “Aduh … panas-panas-panas, butuh air nih. Nggak bisa bertarung nih,” pikir si bakteri atau virus.

“Hahaha, rasain kalian,” kata leukosit serempak dan pada akhirnya, bakteri dan virus ini berhasil ditaklukkan, yeee.

Ketika tubuh dimasuki oleh virus atau bakteri, tubuh akan mengirimkan sinyal ke saraf otak, thermostat. Hal ini bertujuan untuk melemahkan ataupun membunuh virus atau bakteri tersebut (Ogiana, D, 2011).

Tapi yang harus dingat, biasanya tuh tubuh panas tidak melebihi suhu 39oC dan tidak lebih 3 hari. Kalau melebihi hal tersebut, sebaiknya dibawa ke rumah sakit terdekat untuk penanganan lebih lanjut.

Referensi:

  • Ogiana, D, 2011, “Fever, fever patterns and diseases called ‘fever’ – A review.” Journal of Infection and Public Health, 3(4): 108-124.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here