Kebiasaan Saling Menghina di Media Sosial

Sosial media bukanlah akun mewah di zaman ini. Setiap orang mempunyai akun media sosial. Memang, banyak sekali keuntungan dari media sosial ini. Salah satunya mendekatkan dari yang jauh. Hmm … benarkah media sosial mendekatkan dari yang jauh?

Mungkin bisa benar tapi bisa juga tidak. Karena biasa kita lihat di kehidupan sehari-hari, yang mana anak muda penggiat media sosial lebih memilih melihat smartphonenya daripada berbicara dengan teman di sampingnya.

Salah satu fenomena media sosial ini adalah saling menghina. Banyak sekali alasan kenapa seseorang suka sekali menghina. Entah itu ketidaksetujuan, ketidaksukaan, atau bahkan karena dibayar untuk menghina.

Jika beberapa tahun lalu, saling menghina ini tidak begitu banyak. Namun, pada zaman ini, hampir setiap dibuka media sosial, banyak sekali penghinaan yang terlihat. Dan kadang kita asyik sendiri melihat penghinaan tersebut.

Ketika dia setuju bahwa seseorang tersebut perlu dihina, maka dia akan sangat senang, bahkan mengikutinya. Ada juga yang sampai ikut-ikutan menghina. Ada sebuah dorongan, hasrat, untuk tertawa bahagia melihat orang yang tidak dia sukai dihina (Sood, S., dkk, 2011).

Jika diperhatikan sungguh memprihatinkan. Misalkan kita benci banget sama si B tapi tidak bisa mengungkapkannya. Melihat seseorang yang sama bencinya dengan kita terhadap si B, membuat kita senang sekali kepada orang tersebut. Ketika dia menghina si B, secara tidak langsung kita juga akan sangat senang.

Jika diperhatikan, salah satu penghinaan di media sosial terjadi seperti itu. Seseorang yang dia tidak suka pada satu orang, melihat orang lain menghina dirinya, dia pun ikut-ikutan menghina. Diketahui oleh orang banyak. Sehingga terjadi juga penghinaan dimana-mana.

Namun ….

Ketika seseorang ingin bertahan dari penghinaan, ada dua cara yang dia lakukan. Menahan semua penghinaan tersebut atau melawan penghinaan tersebut. Melawan penghinaan bisa dilakukan dengan cara halus maupun kasar. Sayangnya, kebanyakan orang memilih untuk menahan penghinaan dan melawan dengan kekerasan juga (Meither, S., dkk, 2017).

Melihat idolanya dihina oleh orang banyak, dia pun tidak tinggal diam. Dia memilih untuk membalas penghinaan tersebut. Seberapa banyak penghinaan yang diberikan, dia juga membalas. Bahkan, tidak segan-segan lagi mengeluarkan nada ancaman.

Memang, terkadang kita perlu meremehkan nada ancaman tersebut. Namun, jika diperhatikan lebih lanjut, apakah pantas nada ancaman ditampilkan di sosial media? Hal tersebut sangat tidak etis.

Penghinaan dan pembalasan terhadap penghinaan kerap terjadi di media sosial. Suara yang dikatakan sebagai netizen justru terdengar sebagai suara yang tidak berbobot, yang berisi penghinaan tanpa ada edukasi yang membangun.

Memang tidak semua suara di media sosial hanyalah penghinaan. Banyak juga suara yang membangun. Namun, kondisi kita saat ini, kita tidak terlalu fokus kepada suara yang membangun. Kebanyakan kita fokus suara yang tidak bagus yang terkadang cenderung menghina.

Pengalaman di sosial media juga sangat banyak beragam. Ketika seseorang unfriend temannya, maka akan banyak drama. Mulai deh yang namanya drama yang lebih bagus daripada sinetron.

Banyak alasan seseorang berhenti mengikuti di sosial media. Bisa jadi dia memang tidak suka, konten yang ditampilkan tidak dia sukai, atau bahkan bosan dengan hal itu-itu saja (Onat, F., dkk, 2017).

Konten yang bersifat hoax juga sangat mudah sekali menyebar di media sosial. Hal itu kenapa? Kembali lagi kemasalah penghinaan. Dikarenakan dia memang tidak suka dengan salah satu tokoh misalnya. Dan dia melihat berita yang menjelek-jelekkan tokoh tersebut. Dia menjadi senang dan akhirnya menyebarkan kabar hoax tersebut.

Bahkan, tidak jarang pengguna penyebar hoax hanya membaca judulnya saja. Dia setuju dengan judul lalu dia menyebarkannya. Diterima oleh akun lain yang dia memang tidak suka. Dia baca judul dan disebar.

Akhirnya, terjadilah penghinaan baik dari komentar, penyebaran konten, atau bahkan video. Kalau diperhatikan lebih seksama, ujung dari penghinaan tersebut adalah memfitnah.

Hal ini tentu sangat berbahaya. Kita sebagai generasi penerus tentu tidak ingin menjadi generasi penyebar fitnah bukan? Maka dari itu, segala jenis penghinaan di media sosial, kita ambil jalan tengah. Tidak menanggapi penghinaan tersebut atau menghapus penghinaan dan memblokir siapapun yang menghina. Buat pelaku jera dan juga bisa dilaporkan kepada pihak yang berwajib.

Penghinaan memang membuat hati panas dingin. Tapi, ketika hati panas dingin, di saat pikiran tidak mampu memproses hal yang benar. Apakah kita ikut menghina juga? Seperti seseorang yang membawa kita ke sebuah jurang. Dia loncat, apakah kita ikut loncat juga?

Penghinaan di media sosial itu menjamur karena kita juga ikut andil di dalamnya. Walau tidak membalas penghinaan tersebut, tapi kita ikut tertawa dengan komentar penghinaan.

Marilah kita berubah. Berusaha menciptakan media sosial yang adem. Jauh dari penghinaan, penuh dengan konten positif.

Referensi:

  • Meither, S., dkk, 2017, “The Impact of Culture and Identity on Emotional Reactions to Insults.” Journal of Cross-Cultural Psychology 6(48):892-913.
  • Onat, F., dkk, 2017, “An Analysis on Unfriending Decision of Facebook Users.” Journal of Communication 26:109-133.
  • Sood, S., dkk, 2011, “Automatic identification of personal insults on social news sites.” Journal of the Association for Information Science and Technology 2(63):270-285.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here