Indonesia Sehat dengan Perlindungan Imunisasi

Amru.id

Imunisasi bisa dikatakan pemberian vaksin yang berisi bakteri atau virus tertentu yang sudah dilemahkan ataupun dinonaktifkan untuk merangsang sistem imun dan membentuk antibodi di dalam tubuh. Jadi istilahnya, imunisasi memberikan bakteri atau virus tertentu yang sudah lemah. Jadi, antibodi memiliki bahan latihan agar mampu melawan bakteri ataupun virus tertentu. Sehingga antibodi yang dihasilkan adalah antibodi terlatih.

Jadi, imunisasi itu sangat bermanfaat agar tubuh tidak gampang sakit. Misalnya nih, untuk penyakit cacar. Dilakukan imunisasi cacar. Jadi divaksin tuh virus cacar yang lemah. Si antibodi langsung berlatih, “Wah ada sparring latihan nih,” pikir si antibodi. Akhirnya setelah berlatih beberapa hari, si antibodi menjadi kuat. Tiba-tiba suatu waktu, virus cacar datang.

“Hahaha, aku akan membuat sakit tubuh ini,” kata rombongan virus cacar.

“Eh, tidak bisa, kami akan melindungi tubuh ini,” tiba-tiba muncul rombongan antibodi.

“Berani menghadapi kami? Kami ini virus kuat loh.”

“Tentu saja berani.”

Akhirnya terjadilah pertempuran antara virus cacar dan antibodi. Karena antibodi sudah berlatih dengan virus cacar sebelumnya, mereka pun tahu kelemahan dari virus cacar. Sehingga virus tersebut menjadi gampang dikalahkan.

“Tidaaaakkk,” jeritan si virus cacar kuat sekali, mereka kalah telak.


Sejarah Imunisasi

Sejatinya, imunisasi sudah dilakukan sejak zaman kala. Berkisar 600 SM, di Cina melakukan penyuntikan material cacar air via lubang hidung. Hal tersebut membuat tubuh kebal terhadap cacar air. Namun, ilmu tersebut hilang ditelan zaman. Mungkin karena peperangan sehingga musnahnya beberapa ilmu pengetahuan.

Pada tahun 1718, penyuntikan material dari cacar air dilakukan pertama kali di Inggris dan Amerika. Salah satu orang yang melakukan hal tersebut yaitu Thomas Jefferson.

Nah pada tahun 1796 imunisasi mulai berkembang secara luas. Waktu itu, suatu daerah di Inggris, terjadi cacar air secara meluas. Banyak orang yang terkena penyakit dan beberapa ilmuwan berusaha untuk memecahkan dari penyakit tersebut.

Nah, si Edwar Jenner memiliki ide gila menurut zaman itu. Dia memperhatikan kalau orang yang yang bekerja sebagai pemerah susu tidak terkena cacar air. Hmm … ini tentu membingungkan menurut dia.

Akhirnya, Edwar Jenner menyuntik James Phipps, seorang anak masih berumur delapan tahun dengan sesuatu yang diambil dari bintik penyakit cacar sapi yang ada pada tangan pemerah susu. Si James Phipps ini mula-mula terjangkit penyakit cacar sapi, namun itu beberapa minggu doang. Setelah itu dia sembuh.

Lalu Edwar Jenner menyuntikkan serum cacar, dan yang terjadi, anak laki-laki itu menjadi kebal. Dia tidak masalah tuh dengan cacar air yang melanda di daerah tersebut.

Akhirnya Edwar Jemes melakukan penyelidikan lebih mendalam. Dia menginginkan ilmu yang dia kembangkan menjadi sesuatu yang berharga. Dia memperkenalkan hasil usahanya pada sebuah buku tipis yang berjudul “An Inquiry into the Causes and Effects of the Variolae Vaccinae”, diterbitkannya secara pribadi di tahun 1798. Buku inilah yang menjadi cikal bakal berkembangnya vaksinasi.

Dan terjadilah penemuan-penemuan lainnya di tahun-tahun berikutnya. Berkembang dan terus berkembang hingga sekarang ini.


Keuntungan Imunisasi

Dengan imunisasi, sistem kekebalan tubuh telah siap menghadapi serangan penyakit tertentu yang akan datang, seperti cacar, campak, polio, tetanus, gondongan, dll, sesuai dengan jenis vaksin yang telah diberikan. Imunisasi juga membantu mencegah epidemi penyakit menular serta menghemat biaya pengobatan karena biaya pencegahan tentu saja lebih hemat daripada biaya pengobatan.

Intinya, imunisasi membantu kita untuk hidup lebih sehat serta kebal terhadap berbagai penyakit.


Efek Samping Imunisasi

Namun walaupun begitu, ada beberapa efek samping imunisasi yang ditimbulkan. Umumnya, efek samping yang ditimbulkan tergolong ringan, yaitu:

  • Nyeri atau muncul bekas kemerahan di bagian yang disuntik.
  • Demam.
  • Mual.
  • Pusing.
  • Kurang nafsu makan.

Namun, terkadang ada juga efek samping tergolong berat, walaupun jarang terjadi, seperti:

  • Kejang.
  • Reaksi alergi.

Imunisasi Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)

Berikut adalah imunisasi yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), yaiu:

  • Hepatitis B.
  • Polio.
  • BCG.
  • DTP.
  • Campak.
  • Hib.
  • PCV.
  • Rotavirus.
  • Influenza.
  • MMR.
  • Tifoid.
  • Hepatitis A.
  • Varisela.
  • HPV.

Di Indonesia, hepatitis B, polio, BCG, DTP, dan campak merupakan imunisasi wajib. Sisanya merupakan vaksinasi yang direkomendasikan.


Imunisasi Menyebabkan Autis

Perasaan Takut yang Ada di Dalam Diri Saya

Beberapa tahun ini, berkembang statement yang menyatakan bahwa imunisasi menyebabkan autis. Kata mereka, yang menyebarkan kabar ini. Hal ini sudah terbukti di negara Eropa sana. Makanya tidak ada kabar imunisasi di negara Eropa. Bahkan ada yang mengatakan negara Eropa melarang imunisasi.

Memang, kalau diperhatikan sedikit janggal juga dengan perkataan mereka yang mengatakan imunisasi menyebabkan autis. Karena mereka lebih mengatakan hal yang bahaya dibandingkan dengan fakta. Memang benar, kita sebagai manusia memiliki insting yang tajam ketika berhubungan dengan bahaya.

Namun coba perhatikan lagi lebih saksama mengenai imunisasi penyebab autis.


Penelitian Mengatakan Imunisasi Menyebabkan Autis

Penelitian tersebut tercetus oleh dokter Wakefield di Inggris pada tahun 1998. Dia melakukan penelitian pada 12 anak yang dirujuk ke klinik diakibatkan diare atau nyeri perut. 12 anak tersebut mempunyai riwayat perkembangan normal, tetapi entah kenapa mengalami kemunduran pada keterampilan tertentu.

Dokter Wakefield penasaran dan melakukan penyelidikan. Ketika diperiksa, orang tua ditanyakan mengenai riwayat imunisasi MMR (diberikan 9 tahun sebelumnya pada anak) dan hubungan antara imunisasi MMR dan hilangnya keterampilan tersebut.

Hasil yang didapat cukup mengejutkan. 12 anak yang mengalami kemunduran keterampilan yang bisa dikatakan autis memiliki hubungan dengan imunisasi MMR.


Kejanggalan akan Penelitian Tersebut

Adakah cara mengatasi anak malas belajar

Memang, mendengar penelitian tersebut, rasanya begitu terkejut batin ini. Apalagi yang meneliti hal tersebut seorang dokter, profesi yang bukan main-main. Sayangnya, kebanyakan dari kita menerima mentah-mentah penelitian tersebut tanpa mendalaminya.

Ketika kita mendalami penelitian tersebut, didapat banyak sekali kejanggalan. Diantaranya:

1. Subjek yang Diteliti Terlalu Sedikit.

Hanya 12 orang, maka disimpulkan akan berdampak pada semua orang. Inilah yang menjadi kelemahan kita juga. Hanya dengan kesalahan sedikit, maka akan dianggap kesalahan semua orang.

12 orang tentu tidak bisa dikatakan sebagai penelitian. Sangat butuh banget orang/responden yang dibutuhkan untuk mendapatkan valid. Jika responden yang dibutuhkan sangat sedikit, maka bisa dikatakan penelitian tersebut tidak sah.

Sebagai mahasiswa tingkat akhir alias yang sedang mengerjakan skripsi pastinya paham banget mengenai hal ini. Betapa banyaknya jumlah responden yang dibutuhkan untuk sebuah penelitian. Apalagi untuk penelitian kualitatif.

2. Setelah Didalami Lebih Lanjut, Ternyata 4 dari 12 Anak tersebut Memiliki Riwayat Gangguan Pencernaan

Setelah dilakukan penelitian lebih lanjut, 4 dari 12 anak tersebut memiliki riwayat gangguan pencernaan dan itu terjadi sebelum dilakukan imunisasi MMR. Kalau terjadi gangguan pada pencernaan, tentu asupan gizi tidak maksimal. Tentu saja daya pikir anak menjadi rendah.

Namun, si dokter Wakefield tidak memperhatikan hal tersebut.

3. Tidak Ada Kelompok Control dalam Penelitian

Pada sebuah penelitian, sebaiknya ada kelompok kontrol untuk melihat nyata hasilnya. Kenapa dokter Wakefield hanya membahas mengenai 12 anak yang autis yang menurutnya disebabkan imunisasi MMR sedangan ada ratusan anak yang telah imunisasi MMR tapi tidak autis.

Inilah yang menjadi kejanggalan besar. Mesden, dkk melakukan penelitian di Denmark dimulai Januari 1991 sampai Desember 1999. Dia meneliti sebanyak 537.303 anak. Didapat bahwa 440.655 anak mendapatkan vaksin MMR namun 440.655 anak tersebut tidak terjangkit penyakit autis.

Jika dibandingkan penelitian Wakefield dan Mesden, mana yang lebih valid/diterima? Orang awam pun akan setuju bahwa penelitian Mesdem lebih diterima.


Imunisasi Tidak Membuat Autis

foto sehatnegeriku.kemkes.go.id
Picture by: www.sehatnegeriku.kemkes.go.id

Ceritanya ini di negara Jepang. Jadi, di Jepang tepatnya di Yokohama, pada tahun 1988 sampai 1992, pemberian imunisasi MMR menurun drastis. Dan pada tahun 1993, imunisasi MMR dihentikan sama sekali. Peneliti Honda dan kawan-kawan meneliti angka autis di daerah tersebut.

Anehnya, perkembangan anak autis meningkat pada tahun 1988 sampai 1992 dan meningkat drastis pada tahun 1993 ketika imunisasi dihentikan. Sehingga didapat kesimpulan bahwa imunisasi MMR tidak membuat autis.


Indonesia Sehat dengan Perlindungan Imunisasi

foto sehatnegeriku.kemkes.go.id (1)
Picture by: www.sehatnegeriku.kemkes.go.id

Imunisasi memberikan banyak sekali dampak positif untuk perkembangan tumbuh kembang anak. Namun, apakah masih ada anak yang belum mendapatkan imunisasi bahkan tidak pernah mendapatkannya? Sayangnya jawabannya iya. Data dari Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyebutkan semenjak tahun 2014-2016, terdapat sekitar 1,7 juta anak Indonesia tidak mendapatkan imunisasi atau bahkan tidak lengkap status imunisasinya.

Karena hal tersebut, Kementrian Kesehatan (Kemenkes) mengubah konsep imunisasi lengkap menjadi imunisasi rutin lengkap yang terdiri dari imunisasi dasar dan lanjutan. Kenapa? Karena imunisasi dasar saja tidak cukup, perlu imunisasi lanjutkan untuk mendapatkan kekebalan tubuh optimal.

  • Untuk imunisasi dasar lengkap, bayi berusia kurang dari 24 jam diberikan imunisasi Hepatitis B (HB-0), usia 1 bulan diberikan (BCG dan Polio 1), usia 2 bulan diberikan (DPT-HB-Hib 1 dan Polio 2), usia 3 bulan diberikan (DPT-HB-Hib 2 dan Polio 3), usia 4 bulan diberikan (DPT-HB-Hib 3, Polio 4 dan IPV atau Polio suntik), dan usia 9 bulan diberikan (Campak atau MR).
  • Untuk imunisasi lanjutan, bayi bawah dua tahun (Baduta) usia 18 bulan diberikan imunisasi (DPT-HB-Hib dan Campak/MR), kelas 1 SD/madrasah/sederajat diberikan (DT dan Campak/MR), kelas 2 dan 5 SD/madrasah/sederajat diberikan (Td).
  • Vaksin Hepatitis B (HB) diberikan untuk mencegah penyakit Hepatitis B yang dapat menyebabkan pengerasan hati yang berujung pada kegagalan fungsi hati dan kanker hati. Imunisasi BCG diberikan guna mencegah penyakit tuberkulosis.
  • Imunisasi Polio tetes diberikan 4 kali pada usia 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan untuk mencegah lumpuh layu. Imunisasi polio suntik pun diberikan 1 kali pada usia 4 bulan agar kekebalan yang terbentuk semakin sempurna.
  • Imunisasi Campak diberikan untuk mencegah penyakit campak yang dapat mengakibatkan radang paru berat (pneumonia), diare atau menyerang otak. Imunisasi MR diberikan untuk mencegah penyakit campak sekaligus rubella.
  • Rubella pada anak merupakan penyakit ringan, namun apabila menular ke ibu hamil, terutama pada periode awal kehamilannya, dapat berakibat pada keguguran atau bayi yang dilahirkan menderita cacat bawaan, seperti tuli, katarak, dan gangguan jantung bawaan.
  • Vaksin DPT-HB-HIB diberikan guna mencegah 6 penyakit, yakni Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B, serta Pneumonia (radang paru) dan Meningitis (radang selaput otak) yang disebabkan infeksi kuman Hib.

Untuk mencapai kekebalan tubuh pada masyarakat yang tinggi, dibutuhkan cakupan imunisasi dasar dan lanjutan tinggi dan tentu saja merata di seluruh wilayah Indonesia. Jika tingkat kekebalan masyarakat tinggi, maka yang akan terlindungi bukan hanya anak-anak yang mendapatkan imunisasi tetapi juga seluruh masyarakat.

Maka dari itu, untuk mencapai cakupan imunisasi yang tinggi dan merata di setiap wilayah, Menteri Kesehatan mengimbau agar seluruh Kepala Daerah (1) mengatasi dengan cermat hambatan utama di masing-masing daerah dalam pelaksanaan program imunisasi; (2) menggerakkan sumber daya semua sektor terkait termasuk swasta; dan (3) meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya imunisasi rutin lengkap sehingga mau dan mampu mendatangi tempat pelayanan imunisasi.

Kepada seluruh masyarakat, Menkes mengimbau agar masyarakat secara sadar mau membawa anaknya ke tempat pelayanan kesehatan untuk mendapatkan imunisasi dan tidak mudah terpengaruh isu-isu negatif yang tidak tepat mengenai imunisasi.

Mari kita bentuk tatapan masyarakat yang sehat dengan tingkat kekebalan tubuh yang tinggi.

Oh ya, kita sebaiknya tidak mudah terpengaruh isu-isu negatif yang tidak benar mengenai imunisasi. Jika ada isu yang beredar, sebaiknya cari tahu sumbernya. Jika perlu, tanyakan kepada ahlinya.


Referensi

  • Alodokter.com
  • Depkes.go.id
  • Idai.or.id
  • Rumahfiqih.com
  • Sehatnegeriku.kemkes.go.id

Disclaimer

Blog post ini diikustsertakan dalam Kompetisi Media Sosial 2018 oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI; sehatnegeriku.kemkes.go.id.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here