Hujan dan Apa yang Kurasakan

Akhir-akhir ini sering banget hujan. Hujan ini lebih awet dari yang biasanya. Jika sebelumnya, hujan hanya terjadi beberapa jam saja. 1 jam hujan, selesai sudah, selanjutnya disambut dengan terik matahari. Kini tidak demikian, hujannya awet banget dari siang sampai malam.

Aku adalah orang kantoran, katanya sih orang kantoran. Sebagai pendidik, apakah sekolah itu disebut kantor ya? Jadi gini ceritanya. Tentu saja dong harus pergi melakukan perjalanan menuju sekolah. Nah biasanya itu pagi. Kalau pagi sih tidak masalah. Tapi ketika jam pulang, barulah aku merasakan masalah.

Hujan-hujanan tentu tidak aku suka. Entah kenapa aku tidak suka hujan membasahi tubuhku. Aku lebih suka badanku dijemur terik matahari daripada beradu dengan hujan. Selama terik mataharinya itu tidak panas banget. Kalau panas banget lain ceritanya.

Nah, otomatis setiap sore aku kehujanan. Aku melewati serbuan hujan dengan kecepatan motor sedang.

Tapi kemarin, sekilas aku melihat anak kecil yang riang banget. Mereka dengan senangnya bermain air hujan. Bahkan ada yang buka baju. Mereka senang, seolah hujan ini adalah kesenangan bagi mereka.

Seketika itu juga aku teringat akan masa lalu, ketika aku berada di pedesaan.

Aku pernah mencoba menjadi petani, petani singkong lebih tepatnya. Aku waktu itu penasaran bagaimana kehidupan dengan seorang petani. Kebetulan ada lahan kosong yang cukup luas, aku mengambil cangkung. Untuk pertama kalinya, aku mencangkul tanah. Awalnya berat banget, tubuh ini terasa terkejut. Tapi lama-kelamaan aku menikmatinya.

Lalu dilanjutkan dengan penanaman bibit. Kalau ini masih belum masalah. Tapi ketika batang singkong sudah mulai tumbuh, mulailah yang melelahkan dilakukan, yaitu penyiraman secara berkala dan juga mengawasi terhadap hama.

Ketika menyiram tanaman rasanya berat banget. Membawa air beberapa kilo untuk beberapa batang singkong saja. Itu yang dilakukan sehari-hari. Satu bulan aku terus-terusan menyiramkan batang singkong rasanya ingin menyerah.

Hingga suatu hari, datanglah hujan di pagi hari. Aku merasa bahagia sekali dikala itu. Aku jadi tidak perlu menyiram. Aku dengan bebasnya bisa melakukan aktivitas lainnya. Walaupun aku waktu itu masih sekolah, ke sekolah beradu dengan hujan, tapi aku merasa senang membayangkan tanaman singkong yang tidak perlu disiram.

Oh iya juga, aku pernah merasakan kesenangan ketika datang hujan. Bodohnya aku, aku hanya melihat sudut pandang diriku saja. Apa yang merugikan bagiku, aku anggap segalanya merugikan. Padahal, belum tentu merugikan pada orang lain.

Aku jadi ingat. Ketika aku tinggal di pedalaman, mata air sangat jauh. Seminggu sekali aku memang membawa beberapa ember, pergi ke atas gunung untuk mengambil air bersih. Itu untuk persediaan air minum. Untuk mandi? Rasanya mandi satu kali sehari itu sudah bagus banget.

Dan aku merasakan sangat senang ketika hujan tiba. Aku dengan cepat-cepat mengambil ember untuk menampung air hujan. Air tersebut digunakan untuk air minum dan air mandi.

Sore ini, aku mengubah pandanganku. Aku tidak boleh melihat satu sudut pandang diriku saja. Banyak hal yang mesti dilihat untuk dipertimbangkan. Bisa jadi apa yang aku anggap itu merugikan, ternyata itu baik untuk orang banyak.

Eh, hujan ya? Bersyukur saja. Toh kalau satu tahun tidak pernah hujan, alias musim kemarau panjang, aku juga bakal minta hujan akan datang.

Aneh memang. Ketika hujan tidak pernah datang, aku menginginkan hujan. Tapi, ketika hujan datang, aku menginginkan hujan tidak pernah datang. Itu karena aku tidak bersyukur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here