Hal yang Diperhatikan untuk Berjalannya Pendidikan Karakter

Pendidikan berbasis karakter memang dikembangkan di akhir-akhir ini. Karena memang rasanya percuma saja, seorang yang cerdas secara intelektual tetapi karakternya tidak mendukung. Selama ini memang pendidikan hanya berpusat kepada intelektual saja, namun tidak untuk karakter.

Namun, untuk mengubah suasana belajar yang bermula berpusat intelektual menjadi intelektual plus karakter tidaklah mudah. Ini bukan hanya penilaian secara akademik saja yang biasa dinilai saat ujian. Ini penilaian lebih dari itu. Selain akademik yang bisa didapat dari ujian maupun soal harian, dilihat juga karakter siswa di kelas maupun luar kelas. Nah, untuk menciptakan suasana pembelajaran yang bukan hanya berbasis intelektual tapi juga penilaian karakter juga ada, dibutuhkan beberapa cara yang harus dilakukan.

Setidaknya suasana belajar bukan hanya terjadi secara monoton saja. Harus bisa dilakukan dengan berbagai model dan metode belajar.

Suasana Kelas Tidak Monoton

Pembelajaran bukan hanya satu arah saja, guru mengajarkan kepada murid lalu murid menerima pembelajaran tersebut. Istilah modernnya menggunakan model pembelajaran konvensional.

Tapi perlu dilakukan pembelajaran dua arah. Bukan hanya guru yang bertindak aktif, tapi para murid juga bertindak aktif. Nah bagaimana menciptakan suasana belajar dua arah? Tentu saja perlu kerja keras.

Seperti menciptakan model pembelajaran modern mengharuskan murid bertindak aktif. Model pembelajaran yang diterapkan bisa seperti Problem Based Learning (menjawab permasalahan), Discovery Learning (menemukan ide), Project Based Learning (menyelesaikan permasalahan), dll.

Namun … tentu saja membutuhkan waktu yang banyak sih. Seperti pembelajaran menggunakan model Project Based Learning yang secara fakta di lapangan membutuhkan waktu paling sedikit 3 jam.

Kultur Sekolah Positif

Tidak hanya suasana pembelajaran kelas yang diperhatikan, tapi juga kultur sekolah juga perlu perhatian serius. Bagaimana kultur sekolah menciptakan norma-norma yang positif, seperti menciptakan normal kejujuran, sehingga para murid sekolah terbiasa untuk jujur.

Bagaimana norma yang diterapkan sekolah memberikan sanksi nyata bagi pelaku menyontek, berbohong, tidak jujur, dll. Tentu saja ini perlu melibatkan guru, sekolah, dan bahkan orang tua murid itu sendiri.

Terkadang, fakta di lapangan menunjukkan seberapa keras guru berusaha menciptakan pendidikan berbasis karakter namun norma di sekolah tidak mendukung. Sang guru berusaha mengajar sambil menerapkan bahwa kegiatan menyontek itu tidak baik. Namun, kenyataan di sekolah, kegiatan menyontek sudah lazim dikerjakan. Bahkan kalau tidak menyontek, nilai tidak akan baik.

Perlu Keterlibatan Semua Pihak

Pendidikan berbasis karakter sebenarnya bukan hanya di sekolah saja dan perlu keterlibatan sekolah, tapi juga semua orang perlu keterlibatan akan hal tersebut. Buat apa kalau di sekolah berusaha keras norma tidak jujur diterapkan, siapa yang tidak jujur maka diberikan saksi, namun dalam pergaulan sehari-hari ketidakjujuran begitu banyak terjadi. Kalau tidak jujur, maka dianggap tidak baik.

Buat apa di sekolah menerapkan norma “tidak masalah nilai jelek asal jujur” tapi ketika orang tua melihat nilai anaknya jelek, mereka marah-marah. Para orang tua tidak peduli kerja keras anaknya, yang orang tua pikirkan adalah hasil yang baik.

Pendidikan berbasis karakter ini memerlukan keterlibatan semua pihak. Jangan hanya mengandalkan sekolah saja. Sebenarnya, pendidikan saja, tidak hanya terjadi di sekolah. Tapi juga dalam sehari-hari banyak sekali terjadi proses pendidikan. Contohnya: kegiatan berhitung di pusat perbelanjaan.

Pendidikan Karakter perlu Kerja Keras

Untuk transisi pendidikan monoton menuju pendidikan berbasis karakter memang perlu kerja keras. Karena tidak membutuhkan satu pihak saja. Bukan hanya membutuhkan keterlibatan guru dan sekolah saja. Tapi butuh keterlibatan segala aspek.

Ketika pendidikan berbasis karakter sukses dilakukan, maka akan muncul generasi dengan kemampuan intelektual tinggi dan juga karakternya juga baik.