Dampak Berbohong Terhadap Psikologi Jiwa

Berbohong adalah kegiatan yang mengatakan tidak sebenarnya. Ada beberapa alasan kenapa orang berbohong. Kebanyakan alasan tersebut untuk keburukan sih. Biasanya sesuatu yang menguntungkan dirinya dan merugikan orang banyak.

Jarang sih ada orang yang berbohong untuk kebaikan. Ada sih ada, tapi jarang banyak tuh ada waktu yang tepat memaksa kita berbohong untuk kebaikan. Kebanyakan tuh, selalu saja berbohong di waktu yang salah.

Ya, mungkin karena kamu mencuri, terus ketahuan deh. Kan malu banget tuh. Walaupun hanya mencuri uang orang tua sih. Tapi, akhirnya berbohong deh. “Bukan aku yang mencuri tapi adik.” Dengan polosnya orang tua percaya dan kamu selamat. Tapi kan itu sudah termasuk berbohong di waktu yang salah. Hanya karena tidak ingin dimarahi, akhirnya mengorbankan adik sendiri.

1. Kamu Tidak Mempercayai Siapapun

Fail Icon

Karena terbiasa berbohong, akhirnya dalam pikiran tersimpan sebuah memori yang mengatakan, “kejujuran itu tidak ada.” Bagaimana bisa percaya akan kejujuran sedangkan diri kamu selalu menanam kebohongan.

Ini seperti sebuah bom waktu. Awalnya sih tidak ada dampak. Tapi lama-kelamaan akan berdampak akan psikologi jiwa. Kamu yang terbiasa berbohong, akan selalu curigaan melulu akan perkataan orang.

Bahkan nih, hal yang sepele yang seharusnya dipercaya bisa, kaumnya tidak percaya. Akhirnya kamu pergi ke tempat tertuju untuk memastikan kebohongan. Berapa banyak orang seperti ini? Banyak banget. Bahkan, ada beberapa orang yang menganggap tidak ada yang bisa dipercayai. Alhasil, dia melakukan segala pekerjaannya sendirian. Pada akhirnya, dia kelelahan sendiri. Prestasi menurun, dan jadi orang gagal.

2. Kamu Selalu Gelisah

Sad Icon

Gimana nggak gelisah kalau kamunya curigaan melulu. Pada saat sahabat baik berkata, “Kamu jangan berbohong.” Eh, yang ada dalam pikiran, “Kenapa dia berkata demikian? Jangan-jangan dia mau menjatuhkan aku.” Ketika ibu berkata, “Sebaiknya belajar keras ya! Kamu ini anak yang pintar.” Eh … dalam pikiran berkata, “Ibu pasti memiliki maksud tertentu. Aku yakin ibu menganggap aku bodoh.”

Gelisah itu muncul karena ketidakpercayaan. Kamu tidak percaya akan dunia ini, dan itu dimulai dari kebiasaan berbohong. Otak sudah tertanam bahwa berkata tidak sebenarnya itu adalah terbaik. Dan akhirnya, kamu berpikir semua orang akan berkata tidak sebenarnya.

Bukankah setiap manusia membutuhkan teman kepercayaan. Ya … contohnya saja ketika kamu dan beberapa teman mengerjakan sebuah tugas kelompok di sekolah. Jika seandainya seluruh kelompok bekerja dengan perannya masing-masing dan ada kepercayaan, pengerjaan tugas akan terasa ringan. Bahkan, bisa jadi pengerjaan tugas akan menyenangkan. Tapi kalau tidak ada kepercayaan, alhasil hanya satu orang yang mengerjakan dan itu terlalu melelahkan.

Belum lagi kalau di dunia dewasa ini, kepercayaan sangat dibutuhkan dalam menjalankan proses kehidupan. Contoh sederhana ketika melakukan transfer uang. Bukannya ketika melakukan transfer uang ada kepercayaan, bahwa kita percaya kalau uang yang akan ditransfer akan sampai ke pengirim?

3. Kamu Terbiasa Berkata Bohong

sound icon

Kalau masih kecil mungkin tidak memiliki dampak besar. Tapi bagaimana kalau dunia dewasa, yang mana kepercayaan itu sangat penting. Ada juga sih orang yang sukses lewat kebohongan. Tapi gagalnya juga cepat banget dan menyakitkan.

Seharusnya kamu berbicara sesuai keadaan sebenarnya, eh ternyata tidak demikian. Padahal tuh, ketika kamu jujur, kamu akan meraih kesuksesan yang luar biasa. Karena terbiasa berbohong, akhirnya berkata bohong dan gagal deh.

Kalau sudah terbiasa berbohong, sangat susah tuh untuk jujur. Coba saja kalau tidak percaya. Dan orang yang terbiasa jujur, akan sulit berbohong. Contohnya anak kecil. Ketika dia berbohong, seluruh tubuhnya gemetar.

4. Akhirnya …

Orang yang berbohong lambat laun akan menyesal. Sayangnya karena sudah terbiasa sehingga tidak lepas dari kebiasaan berbohong. Kalau pun sudah berhasil berkata jujur satu atau dua kesempatan, godaan berbohong itu akan selalu datang.

Jujur memang menyakitkan dan berbohong terlihat manis. Tapi itu hanyalah semu. Yang sebenarnya adalah jujur itu manis dan bohong itu pahit. Tapi ya … untuk melihat dampak dari jujur dan bohong ini tidak instan. Butuh waktu yang lama melihat dampak dari jujur dan bohong.

Walaupun jika diperhatikan secara instan, berbohong itu menguntungkan, tapi dalam waktu lama, berbohong justru menghancurkan kamu sehancur-hancurnya.

Jadi, bagi sebiasa mungkin, jujurlah.