[Cerpen] Mungkin Jodohku Bukan Di Sini

“Lisa kamu sudah umur berapa?”

“27,” jawabku dengan nada gugup.

“Terus kapan?” tanya Tina sahabatku. Aku tahu maksud dari pertanyaan Tina.

“Aku juga tidak tahu Tina.”

“Kamu jangan putus asa gitu dong.”

“Tapi, aku sudah berusaha kan?”

“Benar dan jangan menyerah dong Lisa.”

“Hahaha, mungkin jodohku bukan di sini kali,” kataku sesumbar. Entah kenapa, rasanya aku semakin putus asa saja ketika memikirkan tentang jodoh. Kalau dipikir-pikir umurku tidak terlalu tua untuk menjomblo. Tapi, usahaku yang terbilang keras tapi jodoh tidak pernah datang.

***

“Hai, boleh kenalan?”

Tiga tahun lalu, ketika aku berada di semester akhir, aku sedang duduk berduaan dengan Tina. Kami sedang berdiskusi demi kelancaran skripsi. Entah kenapa rasanya sulit sekali untuk mengerjakannya. Kalau dipikir-pikir lebih dalam gampang sih, tapi … revisi dosen membutakan akal.

“Boleh,” jawab Tina dengan santainya. Namanya Agus, perawakan bisa dibilang keren. Dia juga semester akhir, tema penelitian kami sama dengan Agus. Karena hal itu membuat aku dan Agus akrab.

“Hmm … Lisa, apa boleh aku meneleponmu nanti malam?”

“Tentu saja. Mau tanya skripsi kan?”

“Hehe, iya.”

Malam harinya Agus meneleponku. Pertama hanya menanyakan masalah skripsi. Namun lama kelamaan tidak lagi mengenai skripsi. Ini mirip seperti laki-laki berusaha PDKT. Aku pun entah kenapa senang banget. Karena memang aku akui, aku memang menaruh perasaan terhadapnya.

“Lisa, aku cinta padamu.”

Aku mengiyakan.

Akhirnya setelah 1 bulan PDKT, aku dan Agus resmi pacaran. Tapi … kami pacaran hanya pada saat galau skripsi saja. Ketika aku dan dia lulus, sibuk dengan kesibukan masing-masing, akhirnya kami pun putus secara alami. Tidak, Agus yang memutuskanku dengan alasan tidak masuk akal.

***

“Kamu, kenapa kamu galau begitu?” 6 bulan setelah aku putus dengan Agus, tiba-tiba saja muncul Rendi. Dia memang teman satu kantor. Tapi, entah kenapa dia mendekatiku.

“Tidak, tidak apa-apa.”

“Pasti karena mantan, hahaha.”

“Kamu kok nyebelin sih.”

“Biarin, hahaha.”

Rendi memang nyebelin, tapi sifat nyebelin itu membuatku rindu. Dia sering banget membuatku bete. Tapi harus aku akui, dia jugalah yang mampu membuatku tersenyum setiap aku bersedih.

Tanpa sadar benih cinta yang sudah lama terkubur akhirnya muncul juga. Ada perasaan yang indah ketika bersama Rendi. Dan anehnya, Rendi mengetahui itu dan dia hanya diam saja.

Berbulan-bulan aku memendam perasaan itu hingga akhirnya Rendi menembakku. Dia memberikanku sebuah coklat tanda cinta dan keseriusannya. Dia bahkan berjanji akan menikahiku. Aku sangat gembira waktu itu.

Berbulan-bulan adalah masa yang indah. Rendi memang serius, dia beberapa kali datang ke rumah. Kalau laki-laki lain tidak akan berani berhadapan dengan orang tua. Tapi Rendi tidak. Dia dengan terang-terangan ingin menikahiku di depan orang tuaku.

Tapi orang tua Rendi tidak menerima hal tersebut. Akhirnya, Rendi dijodohkan dengan perempuan pilihan orang tua Rendi. Sialnya, Rendi jatuh hati kepada perempuan itu. Aku diputuskan secara sepihak.

***

Kegagalan cinta yang kedua cukup memberikan pengaruh bagiku. Meski aku akui itu adalah pengaruh baik. Karena kegagalan itu mendekatkan aku kepada Tuhan. Aku semakin memperdalam ilmu agama.

Pakaianku yang sebelumnya cukup mengumbar aurat semuanya aku bakar. Entah kenapa aku merasa risih dengan pakaian tersebut. Padahal dulu aku merasa cantik banget bila menggunakan pakaian itu. Aku mengganti dengan pakaian tertutup dan itu sangat nyaman aku rasakan.

Mengikuti beberapa pengajian mampu membuat diriku melupakan galau dengan cepat. Seandainya dulu aku cepat-cepat berubah, mungkin aku tidak akan merasakan galau teramat ketika putus dengan Agus dahulu.

Aku tidak suka lagi dengan pacaran karena memang tidak ada gunanya. Akhirnya aku menempuh jalur taaruf. Aku memberikan CV-ku. Aku menunggu dengan penuh ikhlas.

Satu bulan aku menaruh CV, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang serius. Umurnya tidak jauh berbeda, hanya terpaut 2 tahun. Aku sebenarnya menaruh hati pada pandangan pertama, tapi aku menyimpan perasaan itu.

“Maaf, aku tidak bisa menerima perempuan yang pernah pacaran.”

Itu memang penolakan lembut tapi rasanya sakit banget. Laki-laki yang berada di balik tirai tidak menerima masa laluku. Aku berusaha keras untuk tetap tegar.

***

“Lisa, kamu sedang galau?”

“Tidak itu.”

Tina mengetahui kabar gagalnya proses cintaku dan dia mendatangiku. Dia menghiburku semalaman. Walaupun aku tahu, 2 hari lagi Tina akan melangsungkan pernikahan. Sungguh beruntungnya dirinya.

“Ayo dong Lisa tersenyum.”

“Iya bawel.”

“Hari ini hari pernikahanku loh. Sahabatku tidak boleh iri ya.”

“Lama-lama aku tarik juga rambutmu biar rontok.”

“Jahat banget sih Lisa.”

Tina sangat cantik dengan gaun pengantinnya. Walaupun gaun pengantinnya tidak mewah seperti yang ditampilkan di film-film, tetap tidak bisa menyembunyikan kecantikannya. Aku antara cemburu dan senang.

***

“Maaf, apa kamu sedang dilamar laki-laki?” seorang laki-laki tiba-tiba datang. Dia tidak aku kenal, dia orang asing, namun dia menanyakan hal tersebut.

“Tidak.”

“Syukurlah.”

Laki-laki itu pergi berlalu meninggalkan aku yang penuh penasaran. Apakah dia akan melamarku? Entahlah. Pengalaman cinta yang gagal membuatku tidak cepat bahagia dengan laki-laki.

Tapi satu minggu kemudian dia benar-benar melamarku. Laki-laki itu, namanya Reno datang ke rumahku, mengatakan keseriusannya kepadaku. Aku sih biasa saja, tapi ketika di dalam kamar, sendirian, aku girang banget, sampai lompat-lompat di atas tempat tidur.

“Lisa, jangan terlalu gembira. Kita tidak tahu siapa dia.”

“Positif thinking saja bu.”

Ibu sebenarnya cemas tapi dia tetap menyerahkan segala keputusan berada di tanganku.

Berhari-hari aku sangat bahagia. Bahkan Tina yang waktu itu sedang mengandung 5 bulan bahagianya luar biasa. Dia bahkan berencana untuk double date. Tapi ini double date versi sudah menikah.

Tapi memang benar apa yang dikatakan ibu. Feeling ibu itu kadang ada benarnya. Reno tidak begitu aku kenal sepenuhnya. Betapa bodohnya aku. Seharusnya aku mengenalnya terlebih dahulu.

Reno ternyata sudah punya istri. Dia berencana untuk memiliki istri 2. Tentu saja aku sebagai perempuan tidak menerima keadaan tersebut.

“Tapi istri 2 itu nggak masalah kan?” kata Reno membela. Aku tidak marah, karena itu memang benar. Tapi aku kesal karena dia tidak jujur. Aku langsung membatalkan pernikahan yang sudah diatur 2 bulan lagi kami akan menikah.

***

“Bagaimana dengan suamimu Tina?”

“Huh nggak tahu nih. Dia asyik ke luar kota mulu.”

“Kan dia sedang memperjuangkan kamu dan anakmu.”

“Iya dong,” Tina tersenyum bahagia sedangkan aku hanya memaksakan senyum. Sejak kegagalan dengan Reno, aku menutup diri hingga 1 tahun lamanya.

“Jangan bilang kamu menutup diri?”

“Eh, menutup apaan? Pintu?” kataku mengelak. Aku memang tidak menceritakan siapapun mengenai ini. Tina memang menawariku beberapa laki-laki teman suaminya, tapi aku memang menolaknya. Ada yang halus ada juga yang terang-terangan.

“Yasudah, jangan menyerah ya. Jodoh tidak akan kemana.”

“Iya dong.”

“Mungkin jodohku bukan disini,” kataku dalam hati.

***

Aku pulang, ketika aku membuka pintu depan rumah tiba-tiba saja ada laki-laki beserta orang tua bertemu dengan orang tuaku. Mereka akrab banget. Siapa dia? Aku tidak kenal dengan laki-laki ini. Mungkin akan melamar mungkin.

“Aduh Lisa, kamu kemana saja sih. Ayo cepat duduk.”

Aku duduk.

“Ah … proses lamaran lagi,” kataku dalam hati.

“Perkenalkan, nama dia Andi. Dia berada di luar kota. Sedang mengunjungi keluarga kita.”

Aku hanya tersenyum saja.

“Dia masih jomblo loh,” kata ibu sambil tertawa.

Senyumanku semakin lebar, senyuman lebar plus penuh paksaan.

Tapi apa yang aku pikirkan tidak demikian. Andi dan keluarga hanya bersilaturahmi saja. Tidak ada maksud untuk melamar.

***

1 bulan kemudian, aku menyadari sesuatu. Andi adalah teman SMA-ku. Ketika kelas XI dia pindah ke luar kota karena orang tuanya pindah bekerja. Dia adalah cinta pertamaku, yang cintaku tidak pernah aku perjuangkan. Aku begitu takut waktu itu. Tiba-tiba saja muncul getaran yang sudah tidak ada lagi semenjak 1 tahun lalu, getaran cinta. Kenapa muncul?

Keesokan harinya, Andi muncul membawa sebuah cincin emas. Dia mengatakan maksud tujuan kedatangannya kali ini. Ayah dan ibu sangat senang. Aku sih senang tapi aku berusaha bersikap biasa. Karena aku tidak mau sakit hati lagi.

Pernikahan dilangsungkan 2 minggu depan. Dan selama itu Andi tidak pernah sekalipun menghubungiku. Aku berpikir kalau pernikahan tidak akan berjalan ternyata, Andi adalah jodohku.

2 minggu kemudian, akhirnya aku sah menjadi istri. Istri dari seorang cinta pertamaku.

Jodohku memang bukan disini, tapi di luar kota.

“Lisa istriku, apakah kamu tahu kapan aku jatuh cinta?”

“Tidak.”

“Ketika SMA. Aku waktu itu sangat takut mendekatimu.”

“Kenapa?” dalam hati aku riang sekali. Ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.

“Kamu cantik banget sih. Aku hanya orang berkacamata tebal, hiks.”

“Hehehe, maaf deh istrimu yang cantik ini.”

“Aku menjaga cintaku. Aku menolak cinta yang baru. Aku belum pernah pacaran. Ternyata istriku sudah punya mantan. Huhuhu.”

“Hahaha, kamu jangan cengeng deh.”

“Tapi aku bersyukur. Akhirnya cintaku terbalas. Bertahun-tahun aku menanti kisah ini. Akhirnya terwujud juga. Kisah dimana kamu menjadi permaisuri istana keluarga kita. Selamat datang istriku.”

OLSHOP MUSLIMAH

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here