Cara Mengendalikan Emosi Saat Menasihati Anak

Memang bukan rahasia lagi jika menasihati anak itu susah-susah gampang. Mengatur emosi kepada anak sendiri dibandingkan anak orang lain itu beda. Kalau untuk anak orang lain, bisalah mengatur emosi. Senakal-nakalnya anak orang lain, masih bisa mulut ini tersenyum. Tapi bagaimana dengan anak sendiri? Gampang banget tersulut emosi. Walaupun mungkin kesalahan dia sedikit, tapi emosi itu meluap-luap.

Seperti seorang guru, ketika dia memberikan pengajaran untuk murid-muridnya, dia akan sabar banget. Diajari dengan sabar dan penuh kasih sayang. Tapi ketika si orang tua tersebut mengajari anaknya, wah … gampang banget emosi. Pokoknya si anak nggak boleh salah. Hehe, memang sih, orang tua menemani anak belajar itu memberikan efek positif, kalau tidak dibarengi dengan emosi.

Jadi, sebisa mungkin kendalikan emosi saat menasihati anak. Tunjukkan kalau kita adalah orang tua yang penuh perhatian, lembut, dan penuh kasih sayang. Karena seperti kita waktu kecil dulu, kalau orang tua emosi, kita merasa kalau orang tua tidak menyayangi kita.

Tanya dalam diri Apakah Harus Emosi

Nah, ketika emosi ini tiba-tiba naik. Si anak misalnya melakukan kesalahan berhitung saat belajar. Satu tambah satu saja dia tidak bisa. Padahal sebelumnya dia benar melakukan perhitungan satu tambah satu. Emosi sudah memuncak, tunggu dulu! Coba dulu pikirkan dalam hati, apakah memang perlu emosi?

Artinya saat itu, coba deh pikir terlebih dahulu. Cobalah untuk berpikir jernih. Jangan tiba-tiba menyalurkan emosi tersebut seenaknya saja. Karena apa? Coba deh pikirkan ketika kita berada di luar. Ketika kita sedang emosi, misalnya emosi sama si bos. Si bos nyalahin kita mulu, padahal itu jelas-jelas kesalahan si bos, tapi si bos tidak mau mengakui kesalahannya. Kita bakal berpikir berulang kali nih, apakah ikut emosi atau tidak. Mungkin sebagian besar dari kita akan berpikir untuk tidak emosi, menahan emosi tersebut secara rapat.

Nah kurang lebih begitulah ketika menasihati anak. Sebisa mungkin pikirkan apakah harus emosi. Kalau bisa tahanlah emosi tersebut sebisa mungkin. Jangan sampai menunjukkan emosi di depan anak, karena itu akan berdampak buruk bagi perkembangannya.

Kecuali kalau memang si anak melakukan kesalahan yang sangat fatal. Misalnya melakukan korupsi uang sekolah mungkin. Gara-gara si anak korupsi uang sekolah, si anak jadinya diberhentikan sementara oleh pihak sekolah. Boleh sedikit emosi, sedikit loh ya, sedikit!

Berusahalah untuk Menenangkan Diri

Memang beda usaha menenangkan diri ketika bersama orang lain dibandingkan anak sendiri. Kalau bersama orang lain mungkin gampang banget menenangkan diri. Berusaha banget untuk terlihat tenang. Walaupun mungkin dalam hati sudah emosi meluap-luap, tanduk di kepala akan muncul, dan gigi taring mulai memanjang. Tetap diperlihatkan kepada orang lain adalah sosok yang lembut dan penuh kasih sayang.

Tapi bagaimana dengan anak sendiri? Inilah yang menjadi kesulitan besar. Sangat sulit untuk menahan emosi ketika bersama anak. Walaupun mungkin kesalahan anak sedikit, tiba-tiba saja tuh emosi meluap-luap. Bahkan emosi yang selama ini ditahan karena orang lain, tiba-tiba saja dilampiaskan kepada anak. Ingat! Hal tersebut tidak boleh. Anak bukan sasaran emosi, tapi anak itu sasaran kasih sayang.

Jadi, berusahalah untuk menenangkan diri. Kalau memang sedang emosi banget, ketika sedang berdiri cobalah untuk duduk. Kalau memang duduk nggak bisa, cobalah untuk berbaring. Kalau memang berbaring tidak bisa, cobalah untuk menjauh sebentar dari anak. Tapi memang kadang anak juga nggak tahu situasi. Sudah tahu orang tuanya berusaha menahan emosi tapi tetap saja dipancing emosinya. Kadang, ada kebahagiaan tersendiri ketika orang tua marah-marah bagi si anak.

Jangan tunjukkan orang tua yang penuh emosi kepada anak, jangan! Karena ekspresi yang penuh emosi akan terus tersimpan di dalam memori anak dibandingkan ekspresi yang penuh kasih sayang.

Cobalah Melakukan Hitungan

Maksudnya gimana nih melakukan hitungan? Maksudnya gini nih. Ketika si anak sedang asyik main. Otomatis dong jadi berantakan. Kapan sih anak-anak bisa main-main dalam keadaan rapi? Jadi, kita sebagai orang tua, apalagi orang tua yang suka banget kebersihan, kerapian, dan keindahan, bakal emosi tuh melihat ruangan yang berantakan.

Padahal kan kalau dipikir-pikir, bukan salah si anak ruangan jadi berantakan. Hal ini karena kita sebagai orang tua kurang memberikan pengajaran kepada si anak tentang pentingnya kerapian, keindahan, dan kebersihan. Hehe, memang sudah sifat alam si anak kalau main itu berantakan.

Jadi coba deh melakukan hal ini, “Nak, cepat bersihkan, ibu hitung sampai tiga. Satu!” Nah, dengan melakukan hitungan itu, emosi jadi tersamarkan. Boleh deh tiba-tiba ketika berhitung suara sedikit meninggi. Hitung-hitung untuk mengeluarkan emosi.

Atau bisa juga sih pake cara lain. Ketika sedang emosi tuh, mulai deh berhitung, “Satu! Dua! Tiga!” tapi ya … si anak melihat orang tuanya sedikit aneh sih jadinya.

Berusahalah tidak Memukul Anak

Beda memang perasaan untuk memukul orang lain walaupun itu anak orang lain dibandingkan anak sendiri. Kalau untuk orang lain, berusaha nih untuk tidak melakukan pukulan. Apalagi orang tersebut adalah atasan, atau memang kemampuan beladirinya hebat banget.

Tapi kalau anak sendiri … inilah yang menjadi dilema. Gampang banget tangan ini melayang. Kalau nggak, melakukan cubitan di kulit lembut si anak. Ada banyak sih ibu yang melakukan cubitan. Tapi tolong hati-hati! Kadang berpikir kalau cubitan itu tidak keras. Namanya emosi, logika tidak jalan. Ternyata cubitan yang dirasakan itu sakit banget. Atau mungkin ayah yang merasa pukulan yang diberikan tidak kuat. Tapi ternyata yang dirasakan si anak kuat banget. Bagi anak, mungkin karena orang lain memukulnya itu memang sakit, tapi tidak sampai memukul hati. Tapi ketika orang tua memukul dirinya. Rasanya itu sampai di hati. Rasanya hati ini terkena pukulan. Karena itulah banyak kita lihat, ketika orang tua memukul si anak, si anak bersedih berbulan-bulan.

Jadi, untuk kesehatan mental dan masa depan si anak, berusahalah untuk tidak melakukan pukulan kepada anak. Apalagi kalau si anak sudah menginjak usia remaja. Baginya, orang tua yang tidak memberikan pukulan adalah orang tua penuh kasih sayang.

Berusahalah Mengendalikan Gaya Bicara

Jangan sampai membentak si anak, jangan! Jangan sampai berkata kasar kepada anak, jangan. Jangan sampai berkata kalau anak tersebut anak kurang asam, jangan! Karena hal tersebut akan berdampak untuk masa depan si anak.

Tentu kita sebagai orang tua tidak ingin anak kita menjadi anak yang kasar. Maunya menjadi anak yang lembut bukan? Tapi masalahnya, apa yang dilihat anak dari orang tuanya itulah yang akan dia contoh. Kalau orang tua suka dengan kekerasan, maka si anak akan menjadi suka akan kekerasan. Tiba-tiba nih si orang tua curhat nih, “Anakku kok kasar kali, kayak nggak pernah disekolahin.” Loh, padahal si orang tua ternyata suka main kasar kepada anak.

Jadikan gaya bicara kepada anak itu lembut banget. Jangan sampai gaya bicara seperti gaya bicara kasar. Kalau gaya bicara orang tua lembut, mereka berusaha mematuhinya. Kadang kita sebagai orang tua sering salah paham. Dikira kalau marah-marah, si anak akan berusaha patuh. Padahal itu hanya paruh terpaksa. Mungkin besok-besok si anak akan melakukan kesalahan yang sama.

Tapi kalau menasihati dengan gaya bicara penuh dengan kasih sayang. Kepatuhan si anak adalah kepatuhan yang diterima dalam hati. Sehingga besok-besok, dia berusaha tidak akan melakukan kesalahan yang sama.

Memang, menasihati anak itu bikin emosi naik turun. Tapi berusahalah semaksimal mungkin untuk meredam emosi tersebut. Ketika orang tua gagal menahan emosinya, maka akan berdampak buruk bagi perkembangan dan masa depan si anak. Tapi ketika orang tua mampu menahan emosinya, maka akan berdampak bagi bagi perkembangan dan masa depan si anak.