Cara Mengatasi Anak Mengalami Kesulitan Berhitung

Memang tidak bisa dipungkiri, kemampuan berhitung itu sangat diperlukan. Jika ingin berbelanja, diperlukan berhitung. Jika ingin memperdalam pelajaran, baik itu golongan sains maupun sosial, diperlukan kemampuan berhitung. Bahkan kalau ingin menjadi seorang ilmuwan, yang ahli dalam satu bidang keilmuan tertentu, kemampuan berhitung perlu banget.

Hampir di keseharian diperlukan kemampuan berhitung. Namun, berhitung tersebut kadang sangat sulit untuk dipelajari. Mungkin sebagian kecil anak, ada yang diberi kemampuan cepat. Sedikit saja diberi pelajaran mengenai kemampuan berhitung, maka si anak tersebut akan menjadi ahli.

Tapi sebagian besar anak adalah memiliki kemampuan yang biasa saja. Perlu beberapa kali ulangan pembelajaran mengenai berhitung dilakukan agar mengerti. Tentu saja ini menjadi hal yang sangat membosankan. Banyak anak gampang menyerah akan hal ini. Tidak mengerti, ya menyerah saja.

Jadi, sebagai orang tua, bagaimana cara membuat anak menjadi ahli dalam berhitung? Tentu saja tidak bisa diandalkan seratus persen pada sekolah, dan tidak bisa juga diandalkan seratus persen guru les.

Ciptakan Konsep Belajar Menyenangkan

Nah, baik orang tua maupun guru, perlu dilakukan belajar dengan konsep menyenangkan. Anak-anak itu secara psikologi inginnya bersenang-senang. Jangan terlalu dipaksakan dengan kegiatan yang menguras otak.

Baik orang tua maupun guru mulailah memikirkan ide kreatif untuk menunjang kemampuan anak berhitung. Bisa dengan memberikannya hadiah yang dia suka ketika si anak berhasil menyelesaikan soal berhitung, tentu saja tanpa paksaan. Bisa juga dengan menciptakan tempat belajar yang menyenangkan bagi anak.

Orang tua juga sebaiknya ikut andil dalam proses belajar mengajar. Mungkin ketika di sekolah, guru memiliki andil yang cukup besar. Tapi kalau di rumah, orang tua memiliki andil yang cukup besar. Jangan jadi orang tua yang terlalu memaksa anak untuk belajar.

Di sekolah juga, jangan terlalu fokus kepada model pembelajaran konvensional, ceramah. Memang itu adalah model pembelajaran yang paling gampang dan mudah digunakan. Terkadang, gunakan variasi model pembelajaran. Variasi model pembelajaran juga bermanfaat untuk menambah semangat belajar anak.

Perkuat Konsep Dasar Berhitung

Berhitung ini bukan seperti pelajaran biologi maupun sosial. Jika pelajaran biologi maupun sosial memerlukan hafalan yang baik, berhitung tidak demikian. Berhitung memerlukan konsep yang matang. Walaupun ada hafalan berupa rumus-rumus abstrak, tapi kalau sudah paham akan konsep berhitung, maka otomatis rumus-rumus abstrak tersebut akan mudah dihafal.

Kebanyakan anak-anak cenderung untuk menghafal tanpa memahami konsep. Bahkan, ada yang sampai-sampai menghafal cara menjawab sebuah pertanyaan berhitung. Maka dari itu, banyak anak-anak yang kewalahan menyelesaikan soal ketika soalnya diganti.

Baik orang tua maupun guru sebaiknya menanamkan konsep berhitung. Bagaimana konsep dari sebuah penjumlahan, pengurangan, perkalian, maupun pembagian. Bahkan perlu banget nih konsep pada pelajaran berhitung super abstrak, seperti: aljabar, trigonometri, persamaan, pertidaksamaan, dll.

Memang sih, menanamkan konsep dasar untuk pemahaman berhitung tersebut sangat sulit. Seperti ketika memahami konsep berhitung:

“Nah anak-anak, jika satu buah apel di tangan kiri, dan satu buah apel di tangan kanan. Maka total apel yang dimiliki ibu ada berapa?”

Coba deh mengajar tanpa memahami konsep, bakal mudah.

“Ingat anak-anak, satu tambah satu sama dengan dua. Dua tambah dua sama dengan empat. Empat tambah empat sama dengan … delapan.”

Tapi, ketika konsep sudah paham, maka akan mudah untuk mempelajari pelajaran berhitung.

Terapkan Kemampuan Berhitung di Kehidupan Sehari-Hari

Nah, ini perlu sekali peran orang tua dan guru. Mungkin bagi guru, perlu menjelaskan kemampuan berhitung pada kemampuan sehari-hari.

“Anak-anak, jika ibu mempunyai lima buah apel. Lalu tiga buah apel ibu makan. Maka sisa apel yang dimiliki ibu berapa?”

Nah, ketika di kehidupan sehari-hari, orang tua memberikan pemahaman kemampuan berhitung. Misalnya ketika di pusat perbelanjaan. Tidak ada salahnya memberikan sebuah tantangan kepada anak.

“Dek, total jumlah belanjaan kita lima ratus ribu rupiah. Kalau ibu membayar dengan jumlah enam ratu ribu rupiah. Berapa sisa kembalikan yang ibu terima?

Dengan menerapkan kemampuan berhitung di kehidupan sehari-hari akan mempercepat anak untuk memahaminya. Iya, kalau diterapkan di dalam kehidupan, mau tidak mau ya harus paham sehingga lama-kelamaan si anak menjadi ahli.

Misalnya ketika kita dulu. Apakah kita dulu bisa langsung berhitung penjumlahan dan pengurangan? Mungkin kalau di sekolah, tidak akan bisa dimengerti mengenai konsep penjumlahan maupun pengurangan. Tapi ketika di kehidupan sehari-hari, ketika di pusat perbelanjaan, memaksa kita untuk memahami penjumlahan maupun pengurangan. Kalau tidak bisa paham, tentu akan merugikan diri kita. Awalnya sih susah, tapi lama-kelamaan tanpa disadari akhirnya menjadi ahli.

Catatan Penting

Untuk kemampuan berhitung sederhana, mungkin anak bisa dipaksakan untuk belajar. Tapi jangan paksakan anak untuk memahami kemampuan berhitung tingkat lanjut, apalagi yang sudah abstrak banget, seperti: aljabar, trigonometri, persamaan, dll.

Kenapa? Karena kemampuan setiap anak berbeda-beda. Mungkin ada anak yang memiliki kemampuan berhitung baik. Pelajaran berhitung tingkat abstrak sekalipun bisa dia pahami dengan baik. Tapi ada anak yang kemampuan berhitung level rendah saja sudah kesulitan untuk memahaminya.

Walaupun mungkin standar kepintaran di sekolah adalah kemampuan berhitung, tapi kemampuan berhitung bukanlah segalanya. Banyak orang sukses di luar sana dengan kemampuan berhitungnya biasa saja. Mungkin selama orang sukses tersebut di bangku sekolah, mereka tidak memiliki prestasi cemerlang.

Jangan paksakan anak untuk pahami kemampuan berhitung. Mungkin, si anak ahli dengan kemampuan seni, hafalan, olahraga, maka kembangkanlah bakat anak tersebut.