Budaya Membaca Semakin Rendah/Punah

Membaca sebenarnya sangat berguna. Membaca disini konteksnya bukan hanya membaca buku non fiksi saja. Namun membaca dalam arti luas. Baik itu membaca fiksi maupun non fiksi. Membaca juga bukan hanya secara konvensional saja, membaca buku, tapi ke arah modern juga. Membaca menggunakan media elektronik misalnya, PDF, ebook, journal online, dll.

Budaya membaca di Indonesia semakin punah, semakin sedikit orang membaca. Dan anehnya, budaya berbicara semakin tinggi. Berbicara tanpa membaca, seperti berbicara tong kosong nyaring bunyinya. Bicara lantang tapi ilmu dangkal.

Membaca memberikan pengetahuan. Bahkan kita bisa berkeliling dunia dengan membaca. Membaca juga mampu membuka pikiran kita yang sempit. Dulu mungkin, kita berpikir kalau kehidupan sebatas apa yang kita lihat. Kita tinggal di kota, maka kehidupan hanya sebatas di kota ditinggali, baik itu budaya maupun peraturan. Dengan membaca, kita akan mengetahui bahwa dunia itu luas. Budaya itu banyak, dan peraturan begitu beragam.

Kadang, dengan membaca kita merasakan kalau tinggal di suatu negara seperti berada di dunia lain. Hal ini karena perbedaan budaya dan peraturan di sana.

Ilmu pengetahuan sangat berlimpah dengan membaca. Baik itu tulisan fiksi, banyak sekali diselipkan mengenai ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan bukan hanya sekadar tulisan non fiksi yang memang syarat akan ilmu pengetahuan. Tulisan fiksi juga, apalagi mengenai pengetahuan masalah budaya.

Akses untuk membaca semakin mudah. Harga buku semakin murah. Malah bisa didapatkan secara gratis, tentu dengan legal. Kalau mendapat dengan ilegal, sebaiknya jangan dilakukan. Anehnya budaya membaca justru semakin ditinggalkan.

Ada memang beberapa pendapat kenapa budaya membaca semakin ditinggalkan.

Mungkin yang pertama karena membaca itu melelahkan. Tidak seperti mendengar, berbicara, menonton, kegiatan tersebut tidak melelahkan. Setidaknya, imajinasi tidak dipaksa untuk bekerja. Tapi jika membaca, imajinasi dipaksa untuk bekerja. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang merasa lelah setelah membaca.

Tapi, walaupun lelah rasanya otak itu puas. Rasanya itu adalah capek yang menyenangkan. Pikiran tiba-tiba diasah menjadi lebih tajam.

Sayangnya banyak orang yang berpikir hal yang melelahkan itu tidak baik. Jadinya, membaca tidak dilakukan. Membaca itu melelahkan. Membeli buku rasanya mahal banget. Tapi anehnya, membeli pakaian yang harganya berkali-kali lipat dari harga buku sanggup dibeli. Walaupun koleksi pakaian di lemarinya berlimpah.

Kemungkinan kedua karena merasa membaca itu tidak penting. Walaupun dengan membaca banyak sekali ilmu pengetahuan yang didapat, tapi memang membaca itu dirasa tidak penting. Jadi, seberapa besar pun manfaat yang akan dirasakan, kalau dirasa tidak penting tidak akan dilakukan.

Memang, ada juga sebagian orang yang senang membaca, walaupun itu hanya sinopsis saja. Jadi lebih senang membaca tulisan pendek yang ilmu pengetahuannya sedikit sekali. Hal inilah yang membuat artikel hoaks semakin merajarela.

Jika diperhatikan, artikel hoaks itu hanya beberapa ratus kata saja. Bahkan tidak lebih dari sepuluh kata. Dan hal inipun dijadikan pembenaran bagi sebagian orang. Membuat artikel hoaks, menyebar kemana-mana, bahkan tidak terkendali.

Ketika ada artikel hoaks, tiba-tiba saja dibenarkan artikel tersebut, tanpa ada upaya untuk mencari kebenaran. Padahal kebenaran sangat mudah didapat. Begitu banyak artikel yang panjang dan memuat kebenaran, tapi itu tidak dilakukan. Lebih percaya artikel pendek saja.

Perang hoaks memang gencar, tapi sayangnya, sedikit yang tertarik. Mungkin salah satu penyebabnya karena budaya membaca semakin punah. Artikel penuh kebenaran itu biasanya panjang, karena memang penuh penjabaran mendalam. Artikel panjang, tidak ada yang suka.

Dalam bidang ilmu pengetahuan sebenarnya membaca itu penting banget. Perkembangan ilmu pengetahuan semakin pesat dan tidak dapat diprediksi. Dengan membaca, maka setiap orang mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.

Tapi membaca disini sangat susah dilakukan. Apalagi memang, journal ilmiah tersebut dalam bahasa inggris. Tapi, akses untuk mendapat informasi mengenai hal tersebut sangat mudah. Banyak orang menganggap membaca journal ilmiah seperti bekerja dua kali, menerjemahkan dan membaca.

Mungkin karena itu juga menyebabkan perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia sedikit lambat.

Tulisan ringan sekalipun, komik misalnya, itu pun sangat jarang dibaca. Padahal mampu didapat dengan gratis. Kalaupun bayar, harganya tidak mahal-mahal amat. Lebih mahal harga pakaian dibandingkan dengan komik. Tapi, budaya membaca semakin punah.

Membaca itu sangat penting, karena ilmu pengetahuan itu didapat dengan membaca. Jika membaca malas, maka ilmu pengetahuan didapat dari mana? Bisa sih dengan mendengarkan. Seperti mendengar pengajar, mendengar seminar, workshop, pelatihan, dll. Tapi sebenarnya ilmu yang diberikan sangatlah sedikit. Jika apa yang dikatakan pembicara seminar dituangkan dalam buku. Maka itu hanya BAB I saja. Padahal dalam buku, begitu banyak BAB terkandung di dalamnya.

Jangan pernah lupakan membaca. Walaupun mungkin dirasa ilmu yang dimiliki sudah hebat. Perkembangan ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat bahkan tidak diprediksi. Maka imbangilah dengan membaca.

Membaca komik, novel, humor, cerita non fiksi lainnya tidaklah salah. Begitu hanya ilmu pengetahuan terkandung di dalamnya, apalagi masalah budaya dan sastra.

Selamatkan ilmu pengetahuan dengan meningkatkan budaya membaca. Jangan malas membaca! Akses untuk mendapatkan buku atau tulisan sulit? Itu hanya alasan saja. Akses sekarang sudah sangat mudah.