Bagaimana Perasaan Saya Ketika Memiliki Dendam?

Karena suatu kejadian, saya memiliki dendam kepada dia. Rasanya saya ingin sekali membalas segala perbuatannya berkali-kali lipat. Saya ingin dia menderita lebih menderita dibandingkan saya. Meskipun dia telah minta maaf, saya tidak bisa memaafkannya.

Awalnya perasaan dendam itu tidak mengganggu aktivitas sehari-hari saya. Saya tetap pergi bekerja, melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik, bahkan saya juga normal saja bersosialisasi. Tapi memang, saya tidak suka dengan wajah dia.

Meskipun saya dan dia tidak dalam satu lingkungan pekerjaan, tapi ada beberapa kejadian yang mengharuskan saya bertemu dengan dia. Saya tidak bisa melihat wajahnya. Melihat dia mampu membuat hati ini mendidih. Ada gejolak amarah yang ingin dikeluarkan.

Namun, perasaan dendam itu semakin menyakitkan. Saya merasa dendam ini menggerogoti tubuh saya. Pikiran saya selalu tertuju untuk membalaskan dendam ini. Sejujurnya, bisa dikatakan saya tidak bisa lagi beraktivitas normal. Walaupun saya menyembunyikannya, justru semakin disembunyikan maka semakin sakit.

Berhari-hari saya menyusun rencana untuk membalas dendam. Tidak cukup satu kali, beribu-ribu kali saya berencana balas dendam ini. Kadang rencana saya berjalan mulus, dan itu sedikit memuaskan hati saya. Tapi kalau rencana balas dendam tidak berjalan mulus, bahkan gagal, akan sakit rasanya. Rasanya sebuah batu besar mengimpit dada ini, sempit sekali.

Saya semakin benci kepada dia. Jika dulu, mendengar namanya tidak masalah. Tapi sekarang, mendengar namanya saja sudah membuat hati ini mendidih. Ketika dipikirkan, rentetan peristiwa yang membuat saya sakit hati kepada dia semakin kabur. Saya membayangkan kejadian itu amat sangat menyakitkan. Seperti kejadian tersebut dilebih-lebihkan dalam pikiran saya. Entahlah, kenapa bisa demikian.

Perasaan yang semakin mendalam ini membuatku ingin berbuat lebih. Mungkin dulu melihat dia menderita ratusan kali rasanya sudah cukup. Tapi ini tidak, saya ingin merasakan dia penderitaan jutaan kali.

Hidup saya semakin menderita. Bukan menderita secara fisik tapi secara mental. Perasaan saya selalu diliputi oleh amarah. Kadang orang terdekat saya terkena imbasnya. Dulu saya terkenal dengan orang yang ramah, tapi sekarang terkebal orang yang penuh amarah.

Sungguh perasaan dendam ini menghancurkan diri saya. Jika tidak saya memaafkan dirinya, saya akan terus tergerus akan perasaan ini. Mungkin saya akan menjadi gila karenanya atau mungkin terkena depresi. Mungkin bisa jadi saya melakukan hal nekat diluar kesadaran diri saya.

Dulu saya merasakan kasih saya orang-orang. Terutama orang yang amat berarti bagi saya, seperti orang tua, saudara kandung, sahabat, dll. Bagi saya tidak ada yang menyayangi saya. Semuanya membenci saya sehingga dada ini penuh amarah. Orang yang memberi kebaikan sedikit atau banyak, itu tidak berarti.

Perasaan dendam memang tidak dirasakan diawal-awal. Tapi perasaan ini menghancurkan diri sedikit demi sedikit. Hidup dirasa penuh dengan dendam. Perasaan tidak ada orang yang menyayangi saya, padahal begitu  banyak yang menyayangi saya. Tujuan hidup saya lambat laun berubah. Dulu tujuan hidup saya untuk mencapai kebahagiaan, tapi sejak perasaan dendam itu berdiam di hati, tujuan hidup saya ingin membalaskan dendam ini berjuta-juta kali lipat.