Apakah Benar Pelajaran Sastra Tidak Berguna?

Entah kenapa di bangku sekolah pelajaran sastra dipandang sebelah mata. Seolah-olah itu hanyalah pelajaran pelengkap saja. Padahal, pelajaran sastra itu sangat penting. Tidak semua siswa ahli dalam berhitung.

Fenomena di bangku sekolah, yang diperhatikan adalah siswa yang ahli dalam berhitung, apalagi pada matematika. Pelajaran lain? Seperti menghafal? Tidak dipandang sama sekali. Bahkan kalau dipandang, hanya setengah saja.

Para guru juga cenderung memetakan kepintaran siswa dengan kemampuan berhitung saja. Sehingga terkadang wajar kalau dilihat siswa yang tidak bisa berhitung tiba-tiba saja memberontak. Bisa jadi mereka ingin diperhatikan sebagaimana guru memperhatikan siswa yang pandai berhitung.

Tidak mungkin dipaksakan seluruh siswa menjadi ahli berhitung, itu sesuatu kemustahilan. Dan kemampuan berhitung itu belum tentu juga membuat siswa menjadi masa depan cerah. Tapi entah kenapa sebagaian besar pendidik menutup mata akan fakta tersebut.

Apakah siswa yang ahli berhitung itu nantinya akan menjadi orang sukses? Sedangkan orang yang kesulitan dalam berhitung akan menjadi orang nomor dua? Nyatanya tidak demikian. Masa depan semua orang tiada yang tahu.

Anehnya, guru yang mengajar di bidang hafalan juga kadang setuju bahwa siswa yang pandai berhitung itu adalah siswa pintar. Mungkin, si guru juga terpengaruh dengan pemikiran guru lain.

Kesuksesan itu bukan hanya berhitung. Sastra juga ada jalan menuju sukses. Kita lihat betapa suksesnya novelis Indonesia. Ataupun penulis skenario film yang mampu membuat film mengunggah semangat. Itu semua adalah kemampuan dalam menulis cerita. Tapi itu tidak diperhatikan.

Ada yang beranggapan kalau Bahasa Inggris itu tidak berguna. Padahal, kalau diperhatikan, hampir keseluruhan kegiatan orang sukses menggunakan Bahasa Inggris. Sukses di bidang bisnis, maka harus bisa berbahasa bahasa inggris dengan para klien. Sukses dalam bidang keilmuan, maka harus bisa menulis berbahasa inggris.

Bangku sekolah memang Bahasa Inggris itu tidak ada dampaknya sama sekali. Namun di bangku dewasa, Bahasa Inggris itu sangat berdampak banyak sekali. Bahkan, kemampuan berhitung bisa dikatakan tidak ada gunanya dibandingkan kemampuan Bahasa Inggris.

Sekali lagi, fakta tersebut seolah-olah dipandang sebelah mata oleh para pendidik.

Tidak ada yang salah pendidik memperhatikan siswa yang ahli berhitung. Tapi jangan jadi berat sebelah. Perhatikan juga siswa yang ahli dalam menulis, menggambar, menghafal, bernyanyi, dll. Walaupun mungkin kemampuan demikian disebut kurikulum nomor dua, tapi jangan anggap sepele.

Bangku sekolah adalah tempat siswa mengembangkan kemampuannya. Jangan sampai salah langkah, salah memperhatikan siswa, justru menenggelamkan kemampuan siswa tersebut.

Pelajaran sastra sering banget dianggap remeh. Apalagi pelajaran Bahasa Indonesia. Padahal kalau diperhatikan dalam Ujian Nasional, rata-rata nilai terendah adalah Bahasa Indonesia. Hal ini membuktikan kalau Bahasa Indonesia sangat sulit, bahkan lebih sulit dibandingkan Matematika.

Sastra itu penting, sangat penting. Orang yang tidak mengerti sastra, hidupnya akan hampa. Seperti siswa yang dipaksa untuk berlatih berhitung setiap hari. Ada masanya dia merasa bosan dan akhirnya memberontak. Dan itu akan menjadi penyesalan bagi pendidikan.

Siswa yang ahli dalam menulis cerita tapi tidak pernah diperhatikan. Segudang prestasi yang dia raih dan itu tidak dianggap spesial. Sedangkan siswa yang hanya meraih prestasi satu kali saja di bidang berhitung dan itu diperhatikan. Wajar siswa yang ahli menulis cerita akhirnya memberontak.

Apakah pelajaran sastra itu tidak penting? Tidak! Itu sangat penting. Sama pentingnya dengan pelajaran berhitung.