5 Hal Yang Dilakukan Ketika Mendapat Revisi Skripsi

Menulis skripsi itu tidak mudah. Banyak sekali tantangan yang harus dilewati. Mulai dari melawan malas hingga melawan rajin. Bahkan, butuh banyak pengorbanan agar bisa selesai, seperti pengorbanan waktu bermain.

Namun, skripsi itu tidak pernah lepas yang namanya revisi. Itu tandanya si dosen peduli dengan nasib skripsi kita. Kalau si dosen tidak peduli, tidak ada tuh yang namanya revisi. Setelah lulus, baru deh sadar pentingnya revisi.

Namun, tidak dipungkiri lagi kalau mendapat revisi itu bikin stress, panik, insomnia, lapar mendadak, dll. Apalagi si dosen revisinya sambil marah-marah, mental benar-benar diuji tuh. Dan juga, tulisan si dosen beda tipis dengan tulisan dokter. Bakal runyam tuh ceritanya.

1. Jangan Panik

shocked icon

Rata-rata tuh mahasiswa ketika mendapat revisi bakal panik. Barus saja si dosen berkata, “Aduh … kenapa seperti ini sih tulisan kamu.” Tiba-tiba saja keringat mengalir deras. Si dosen mengeluarkan pena, coretan halus mulai membanjiri skripsi, panik pun tidak terelakkan.

Berusahalah untuk tidak panik. Kenapa? Karena kalau panik, pikiran tidak akan normal. Tidak bisa tuh lagi memikirkan mana yang benar dengan tidak. Biasanya kan tuh, si dosen nanya-nanya dulu gitu. Misalnya mempertanyakan kenapa memilih referensi yang digunakan. Kalau argumen yang diberikan memuaskan si dosen, maka tidak ada revisi lanjutan. Kalau argumen yang diberikan kacau balau, revisi pun semakin bertambah.

Panik pun membuat ketakutan semakin mengerikan. Mulai tuh berpikir tidak akan bisa wisuda, bahkan mulai berpikir kalau akan di DO. Hey-hey-hey, jangan panik, berusahalah untuk menenangkan diri. Walaupun gugup, nggak papa. Gugup itu wajar, yang penting jangan panik.

2. Lupakan Sejenak Masalah Skripsi

Sleep Icon

Setelah si dosen keluar dari ruangan, atau kita yang keluar dari ruangan dosen, rasanya benar-benar bebas dari ruang tahanan. Lega sih lega, tapi … stress juga muncul. Melihat skripsi penuh coretan, benar-benar buat stress tuh.

Maka dari itu, segera tuh sembunyikan skripsi penuh coretan tersebut. Entah itu cepat-cepat balik ke kos lalu ditaruh di tempat dokumen, atau langsung dimasukkan ke dalam tas, atau mungkin titip sama kawan.

Kenapa harus dilupakan sejenak, agar tidak stress dan pikiran jernih kembali. Tapi jangan lama-lama juga. Paling lama 3 hari saja dilupakan. Nah, pada saat proses penjernihan pikiran ini, lakukanlah apa yang disuka, asal positif. Entah pergi berlibur, bermain bersama teman, atau bermain game.

3. Baca Skripsi Kembali

book icon

Nah setelah 3 hari kemudian, pikiran mulai jernih. Bacalah skripsi kembali. Pelan-pelan baca. Jangan dulu perhatikan yang direvisi. Usul nih ya, jangan baca skripsi yang penuh dengan revisi. Kalau ada print out skripsi yang baru, itu saja dibaca. Kalau tidak ada, baca saja di komputer.

Bakal sadar tuh, ternyata tulisan kita sangat jelek. Kita sendiri pun malu membacanya. Rasanya ingin sekali tulisan tersebut dihapus dan dibuang jauh-jauh. Kenapa bisa demikian? Ya wajar, namanya tulisan pertama.

Ketika menyadari ternyata tulisan skripsi penuh kekurangan, secara tidak sadar kita akan menyadari kenapa si dosen memberikan revisi. “Oh … pantas diberi revisi,” kira-kira itulah kalimat yang keluar dari mulut kita.

4. Perhatikan Revisi

Purpose Icon

Nah, sekarang saatnya memperhatikan revisi. Mulai baca pelan-pelan apa yang dimaksud si dosen. Kalau tulisan si dosen bisa dibaca, beruntung. Kalau tidak bisa dibaca, beda tipis dengan tulisan dokter, sebaiknya perbanyak sabar.

Walaupun banyak skripsi yang diberikan, tapi kalau diperhatikan lebih lanjut, bakal menyadari ternyata revisinya sedikit banget. Karena tulisan si dosen aja yang tidak tertolong makanya kelihatan revisi banyak.

Mulai nih kita mengira-ngira sebaiknya memperbaiki kesalahan bagaimana ya. Kalau si dosen memberikan revisi mengenai referensi, maka mulai muncul ide di kepala mengenai referensi terbaik. Kalau diberikan revisi mengenai tata kalimat, muncul ide untuk memperbaikinya.

5. Lakukan Perbaikan

fix icon

Nah, lakukan perbaikan skripsi semaksimal mungkin. Istilahnya, jangan ada kesalahan lagi. Cukup kesalahan sebelumnya yang ada. Agar nanti si dosen tidak memberikan revisi lagi, si dosen senang kita pun ikut senang.

Iya sih, mungkin sebelum melakukan perbaikan, kita mendapat gambaran bagaimana cara memperbaiki revisi. Eh ketika akan dilakukan perbaikan, ternyata susah banget. Wajar itu toh. Jangan menyerah dan lakukan yang terbaik.

Dan ingat! Setelah melakukan perbaikan sebaiknya baca kembali skripsi lagi. Apa ada yang salah mengenai tata kalimat. Jangan lagi kejadian, karena kesalahan huruf besar, huruf kecil, tanda titik, akhirnya diberikan skripsi. Baca lagi dengan penuh keseriusan.

Merasa sulit menulis skripsi itu wajar. Namanya saja tulisan pertama. Nggak ada orang yang percobaan pertama langsung berhasil. Karena tulisan kita jelek, makanya si dosen memberikan revisi. Si dosen berharap agar tulisan kita semakin baik.