5 Cara Sugesti Diri agar Rajin Belajar di Perantauan

Ada sebuah cerita nyata. Sebelum sekolah di perantauan, setiap hari belajar keras. Dia mempunyai impian yang sangat besar. Mimpinya untuk belajar di perantauan adalah satu dari sekian mimpi yang harus diwujudkan.

Memang, nasib selalu memihak kepada orang yang bekerja keras. Akhirnya impiannya berhasil. Dia menjadi salah satu peserta yang lolos di tes perguruan tinggi di perantauan. Alangkah senangnya dia saat itu.

Namun anehnya, setelah di perantauan dia malah hilang semangat belajarnya. Melihat indahnya dunia perantauan membuat dirinya lupa kenapa dia harus berjuang. Dia juga berpikir belajar itu tidak ada gunanya.

Belajar jadi malas-malasan. Selain itu, tugas yang diberikan dosen juga malas dilakukan. Ujian juga malas belajar. Alhasil nilai anjlok. Sungguh, berbalik dengan apa yang dia pikirkan sebelumnya. Seharusnya dia belajar di perantauan, ternyata yang terjadi dia semakin malas.

Hehe, itu pengalaman saya pribadi.

Jadi, sugesti diri agar rajin belajar itu sangat perlu loh. Apalagi di perantauan yang tidak ada yang mengawasi.

1. Ingat Orang Tua

remember icon

Ingatlah orang tua yang berusaha untuk menyekolahkan kamu. Ingatlah orang tua yang selalu tersenyum demi membahagiakan kamu. Ingatlah orang tua yang menunggu akan kabar baik dirimu. Ingatlah orang tua yang tidak pernah berpikir akan kamu membuat mereka kecewa. Ingatlah orang tua yang berjuang keras demi masa depan kamu yang cemerlang.

Terkadang, hidup di perantauan membuat lupa akan kehadiran orang tua. Kadang, malas pula mencari tahu kabar orang tua. Bahkan nih ada kasus, orang tuanya meneleponnya berkali-kali dan itu tidak pernah digubris.

Apakah orang tua sakit hati dicuekin? Tidak! Orang tua tetap berpikiran positif dan memiliki harapan anaknya menjadi sukses kelak.

Mengingat orang tua bukan sekadar memajang foto orang tua. Memang terkadang memajang foto itu perlu untuk mengingatkan kita. Tapi bukan itu intinya. Mengingat orang tua untuk memberikan semangat belajar.

Harus diakui, semangat belajar itu tidak selamanya menggelora. Ada kalanya semangat itu lesu hingga berada di tahap belajar itu tidak ada gunanya. Ingatlah orang tuamu, yang selalu menunggu kamu. Satu menit kamu malas belajar, mungkin itu akan membuat orang tua kamu kecewa, walaupun mereka tetap tersenyum.

2. Ingat Saudara

remember icon

Kalau kamu anak pertama, ingat saudara di bawahmu yang perlu contoh. Kamu adalah panutan untuk adik-adikmu. Kalau kamu berhasil, maka adik-adikmu akan berusaha untuk menyamaimu.

Kalau kamu anak terakhir, lihat kakakmu yang berhasil. Apakah kamu tidak ingin seperti dia? Atau mungkin, kakakmu tidak berhasil sesuai yang diharapkan. Apakah kamu ingin mengikuti jejak kakakmu? Atau kamu berubah keadaan? Menjadi seorang yang berhasil dan itu akan mendorong kakakmu untuk maju.

Mungkin saudara lain seperti paman, bibi, sepupu. Mereka menunggu kabar baik darimu. Iya sih masalahnya, mereka maunya mendengar kabar baik darimu. Kalau misalnya kamu gagal, bisa-bisa mereka tidak menganggap kamu saudara lagi. Tapi kalau berhasil, tiba-tiba saja mereka menganggap kamu saudara paling dekat.

3. Ingat Masa Lalu

remember icon

Terkadang, ketika di perantuan, membuat lupa akan masa lalu. Kenapa dulu kamu berusaha belajar di perantauan. Bukankah dulu kamu berusaha keras? Bukankah dulu kamu belajar keras hingga waktu tidur berkurang? Bukankah dulu kamu mempunyai mimpi yang harus dicapai dengan belajar keras?

Namun kehidupan perantauan membaut lupa akan masa lalu. Masa lalu itu seperti sebuah memori usang yang sulit sekali diperbaiki. Kadang ada seseorang berpikir, “Kenapa dulu saya berjuang di masa lalu ya?”

Ingatlah! Kenapa kamu berjuang keras di masa lalu. Ada sebuah impian yang harus diwujudkan di perantuan ini, dan itu tentu saja didapat dengan belajar keras. Ketika di masa lalu, kamu mempunyai mimpi. Di perantauan akan berjuang keras agar berhasil. Kalau perlu belajar sampai tengah malam. Ada sebuah impian yang membakar semangatmu.

Temukan kembali semangat itu. Temukan kembali impian itu. Temukan kembali alasan itu. Kamu dan masa lalu bukanlah sesuatu yang dilupakan. Masa lalu itu akan selalu ada untuk dijadikan pembelajaran, alasan kenapa kita harus berjuang.

4. Ingat Masa Depan

remember icon

Apa impian kamu sehingga mengorbankan waktumu untuk sekolah? Bahkan rela pergi ke perantauan yang asing bagimu. Bukankah lebih baik tinggal bersama orang tua, tidak ada tuntutan dan uang makan ditanggung.

Di perantauan semua serba kekurangan dan kamu berani mengambil risiko demikian? Ada suatu impian yang ingin kamu raih. Dan salah satu cara untuk meraih tersebut dengan belajar di perantauan.

Ingatlah impian tersebut. Mungkin kerasnya perantauan membuat kamu berpikir untuk mengubur impian itu. Hey, jangan pernah menyerah terhadap impian. Karena dunia selalu berpihak kepada orang yang berjuang keras. Walaupun ada proses panjang yang melelahkan bahkan menyakitkan yang harus dilalui sih.

Setiap orang punya impian. Alasan sederhana kenapa kamu mengambil risiko untuk belajar di perantauan, adalah karena impian. Mungkin impian itu terkubur karena kerasnya kehidupan. Galilah dan temukan kembali impian itu. Urusan terwujud tidaknya impian tersebut itu urusan nanti, yang penting berusaha sekuat tenaga.

5. Ingat Orang Terkasih

remember icon

Ehm, mungkin ada seseorang yang menunggu kamu untuk sukses. Seseorang yang menunggu kabar darimu, dan dia dengan setia menunggu kamu. Atau mungkin kamu sudah mengikat janji dengan dirinya, ehm ….

Ingatlah mereka yang menunggu kamu kembali dalam keadaan sukses. Cara untuk sukses ya belajar keras. Kalau sedang malas belajar, paksa lagi, sehingga belajar menjadi rajin. Ada orang terkasih yang menunggu kabarmu.

Ya kan siapa tahu. Kamu adalah pemuda yang sedang dimabuk asmara. Terus berjanji akan menikahi seorang gadis kalau sudah sukses di perantauan, ehm …. Atau bisa juga dibalik kamu adalah seorang gadis yang berjanji dengan pemuda di sana.

6. Penutup

conclusion icon

Ketika di perantauan, kadang membuat lupa akan impian. Sehingga menjadi malas belajar. Ditambah dengan gemerlapnya kehidupan di perantauan. Atau juga karena kerasnya sistem belajar di perantauan membuat ingin menyerah.

Semangatlah! Jangan patah semangat. Jangan malas belajar! Belajar yang giat demi masa depan cerah! Semangat belajar demi kabar baik di kampung halaman!

Ayo semangat belajar.